Tuna Rungu Pun Bisa Mendengar

Tuna Rungu Pun Bisa Mendengar

Tuna Rungu Pun Bisa Mendengar

Diperbaharui 18 April 2014, 11:34 AEST

Auditory Verbal Therapy atau AVT yakni  terapi pendengaran dan berbicara mulai diperkenalkan sebagai metode baru untuk menangani anak dengan gangguan pendengaran pada pertengahan abad ke-20.

Tahukah Anda kalau 99% penyandang tuna rungu dengan tingkat gangguan pendengaran paling berat sekali pun ternyata masih memiliki kemampuan untuk mendengar. Hanya 1% saja yang benar-benar tidak bisa mendengar. Itulah teori yang melandasi metode Auditory Verbal Therapy (AVT) yang mendorong anak-anak Tuna Rungu untuk mampu mendengar dan berbicara dengan normal. Australia menjadi salah satu negara yang menjadi kiblat metode terapi ini.

Menurut Sinta Nursimah, salah seorang terapis AVT profesional di Surabaya, Jawa Timur, metode AVT mengajak penyandang tuna rungu untuk memaksimalkan kemampuan mendengar mereka yang masih tersisa dengan dukungan alat bantu dengar.

“Ada teori yang mengatakan 99% anak yang mengalami gangguan dengar tingkat yang paling berat sekali pun, itu sebetulnya dia masih punya sisa pendengaran. Hanya satu persen saja yang bener-benar tidak punya. Cuma masalahnya kenapa mereka jadi tidak mampu mendengar, karena tidak distimuli.” kata Sinta Nursimah dalam wawancara dengan Iffah Nur Arifah dari ABC.

“Nah AVT ini mengajarkan anak Tuna Rungu untuk memakai alat bantu dengar kemudian kemampuan mendengarnya ini dirangsang terus supaya mereka bisa belajar mendengar. Dan mereka tidak cuma bisa mendengar saja, tapi juga belajar melalui mendengar. Kalau dia bisa mendengar berarti dia bisa belajar banyak hal yang bisa menunjang dia untuk dapat berkomunikasi seperti anak-anak normal lainnya.”

Menurut Sinta meski sekarang sudah mulai dikenal luas, namun penerapan metode AVT untuk menangani anak Tuna Rungu itu masih relative kecil dibandingkan dengan metode lainnya, seperti membaca gerak bibir atau bahasa isyarat. Padahal menurut Sinta, AVT memiliki banyak kelebihan.

“Karena anak diajarkan untuk mendengar, berarti dia memiliki akses untuk memiliki kemampuan berbicara dan komunikasi verbal, sehingga dia bisa masuk ke sekolah umum, dia juga bisa berinteraksi dengan teman, dan masuk  ke masyarakat mendengar pada umumnya.”

“Sementara mereka yang mengembangkan bahasa isyarat memerlukan komunitas tertentu untuk bisa dipahami karena tidak semua orang  bisa mengerti bahasa isyarat, meskipun metode ini lebih terjangkau, karena tidak perlu membeli alat bantu pendengaran yang harganya masih cukup mahal bagi sebagian orang.” katanya.

Belajar AVT di Australia

Sinta Nursimah (46) merupakan sedikit dari terapis AVT professional di Indonesia. Bersama Yayasan Aurica yang didirikannya, Sinta saat ini banyak menangani anak tuna rungu dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, ia juga aktif memberikan pelatihan di berbagai seminar, di rumah sakit – rumah sakit di Indonesia.

Ia mengaku kemampuannya mengenai AVT ini dipelajari ketika ia mengantarkan puterinya yang didiagnosis menderita gangguan pendengaran tingkat sangat berat atau tuna rungu mengikuti program habilitasi AVT di Australia.

Kesuksesan metode AVT yang membuat puterinya mampu lancar berkomunikasi secara verbal dan berprestasi di sekolah umum itu, mendorong Sinta untuk membantu anak-anak Tuna Rungu lainnya mengoptimalkan potensi diri mereka.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu Sinta mengikuti kembali pendidikan sebagai terapis professional AVT tingkat lanjutan (Intermediate) di Sheperd Centre, Sydney, Australia  dan tingkat Advance di Kuala Lumpur, Malaysia.

Australia dipilihnya karena menurut Sinta, Australia saat ini menjadi salah satu kiblat terapi AVT di dunia bersama dengan Toronto, Canada dan Amerika Serikat.

Bahkan menurutnya, Australia terpilih menjadi negara yang diberikan kewenangan untuk menyusun kurikulum pendidikan mengenai metode AVT yang menjadi pedoman bagi terapis di seluruh dunia. Selain itu Australia juga menjadi negara yang menerbitkan sertifikat terapis AVT professional internasional.

Dengan perannya ini, menurut Sinta Nursimah, tidak heran kalau penanganan penyandang gangguan pendengaran atau tuna rungu di Australia sangat baik.

"Yang membuat saya surprise, itu ketika ke Perth membawa anak saya terapi selama 6 bulan, saya lihat di sekolah-sekolah itu anak-anak yang punya gangguan pendengaran sudah mampu berkomunikasi dengan lancar dan orang tidak akan menyangka kalau mereka tuna rungu, kecuali didekati dan kita lihat mereka menggunakan alat bantu dengar. Itu karena mereka sudah ditangani sejak kecil," cerita Sinta.

Di Australia menurutnya metode AVT cukup dikenal berkat program pemerintah yang memberikan bantuan alat bantu dengar gratis bagi anak yang ketahuan menderita gangguan pendengaran atau tuna rungu.

“Jadi di negara tertentu ada yang namanya new born baby screening, jadi begitu bayi lahir, sebelum keluar dari rumah sakit itu, mereka diperiksa, di screening. Jika terbukti memiliki gangguan, maka dia harus segera di intervensi pakai alat bantu dengar, dan direhabilitasi paling lambat sebelum 6 bulan. “

“Tapi kalau di kita, banyak anak-anak yang punya gangguan pendengaran, banyak yang tidak terdeteksi. Jadi orang tua suka bilang, ya memang belum waktunya ngomong...dulu orang tuanya juga telat bicara dan sebagainya..dia tidak bawa anaknya ke rumah sakit untuk diperiksa”.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.