Tradisi Ramadan Indonesia di Mata Ekspatriat

Tradisi Ramadan Indonesia di Mata Ekspatriat

Tradisi Ramadan Indonesia di Mata Ekspatriat

Terbit 26 July 2014, 10:43 AEST

Tiap negara memiliki keunikan dalam merayakan bulan suci Ramadan. Di Indonesia, selain diwarnai beragamnya jajanan takjil, tradisi buka bersama dan ramainya program Ramadan di TV, menjadi ciri tersendiri. Inilah kesan utama yang ditangkap sejumlah ekspatriat Muslim di Jakarta.

Di Jakarta, tradisi buka bersama banyak dilakukan masyarakat di tempat-tempat umum seperti masjid, rumah makan, dan tentu saja pusat perbelanjaan. (Foto: http://www.istiqlalmosque.com)
Di kota besar seperti Jakarta, keramaian pusat perbelanjaan saat jam berbuka dan kerumunan orang yang membatalkan puasa di dalamnya dapat dilihat sebagai pemandangan rutin di bulan Ramadan.

Kesan itulah yang dipahami baik oleh Nihal Ajinkya, seorang ekspatriat Muslim asal Mumbai, India, mengenai tradisi Ramadan di Indonesia.

“Ramadan yang terjadi di Indonesia pasca buka puasa adalah waktu berkumpul bersama teman-teman dan waktunya bersosialisasi. Saya perhatikan, orang Indonesia begitu sering kumpul-kumpul dengan keluarga, rekan dan kerabat saat Ramadan,” ujarnya dengan senyum kepada Nurina Savitri dari ABC International.

Nihal sudah tinggal di Jakarta setahun lebih. Ia datang ke kota ini tahun lalu, dan sempat merasakan beberapa hari Ramadan 2013, namun baru tahun ini ia menjalaninya secara penuh di Indonesia.
Bagi pria yang bekerja di perusahaan konsultan bisnis ini, konsep puasa yang dijalankan masyarakat Indonesia tentu serupa dengan masyarakat India. “Hal yang sangat berbeda adalah, di sini semua orang di sekitar anda berpuasa,” tuturnya.

Ia berkisah, “Hal ini mempengaruhi anda secara pribadi, karena misalnya seperti di kantor, anda tak bisa makan sembarangan. Ini memang perubahan dari lingkungan awal saya. Karena di India, anda tak bertemu muslim setiap saat.”

Satu hal lain yang menarik perhatian Nihal adalah program-program televisi yang disiarkan selama bulan suci Ramadan.

“Di Indonesia ada program TV yang khusus dibuat selama Ramadan. Di sini, tiap Ramadan tiba, tayangan TV benar-benar berbeda, sementara di India, hal seperti ini tidak pernah ada,” utaranya.
Hugh Elliott, atau 'Faruq', Muslim Australia yang berprofesi sebagai konsultan pendidikan bahasa Inggris. Ia menetap di Jakarta sejak 2007 dan mengaku senang dengan tradisi buka bersama yang ada di Indonesia, (Foto: akun Facebook 'Hugh Elliott')
Hal senada juga dirasakan oleh Hugh Elliott, warga negara Australia yang telah menetap di Jakarta sejak tahun 2007.
Bagi pria yang berprofesi sebagai konsultan pendidikan dan pelatih guru ini, tradisi buka bersama memang salah satu ciri penting perayaan Ramadan di Indonesia.
“Saya suka tradisi buka bersama yang ada di Indonesia. Sesekali saya juga buka bersama beberapa ekspat Muslim di Jakarta,” ungkap Hugh yang memiliki nama Islam 'Faruq'.
Hugh yang memeluk Islam sejak berusia 17 tahun ini juga menyukai program dakwah Ramadan yang kerapkali disiarkan televisi Indonesia selama bulan suci, walau mengaku tak pernah mengingat nama programnya.
Ketika ditanya soal menu favorit berbuka, pria yang beristrikan perempuan Indonesia ini menjawab, "Saya tak punya hidangan favorit berbuka karena saya selalu menyantap apa saja yang dihidangkan di rumah. Tapi selama Ramadan ini saya suka sekali makan tahu isi," ujarnya dengan canda.
Bagi Hugh, menjalani puasa Ramadan di Indonesia dibanding dengan di kampung halamannya, Australia, memiliki kesan yang berbeda.

"Waktu saya puasa di Australia, saya masih muda, jadi puasa memberi banyak tantangan. Sementara ketika saya sudah berada di Indonesia dan menjalani puasa di sini, saya sudah dewasa, jadi di sini saya lebih siap," urainya.

Ia tak membantah bahwa kondisi lalu-lintas di Ibukota memberi tantangan tersendiri saat berpuasa. "Kalau kita pergi kemana-mana sepulang kantor, pasti ketemu macet, makanya buka puasa lebih enak dilakukan di rumah karena tak harus menemui situasi itu," katanya.

Sudah tiga tahun belakangan, ia bekerja pada sebuah sekolah Islam 'Sinar Cendekia' di bilangan Serpong, Tangerang, dan bahkan sejak 2008 ia sudah berkecimpung secara profesional di lingkungan sekolah Islam. Lewat pengabdiannya di sekolah-sekolah itu sebagai konsultan pendidikan, Hugh terlibat banyak dalam kegiatan Islami di Indonesia.

Di luar Ramadan yang sarat akan ritual, Hugh berpendapat bahwa pengajaran Islam yang ada di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, juga lebih berfokus pada tradisi-tradisi keislaman.
"Pengajaran Islam di Indonesia, menurut saya, biasanya fokus pada aspek ritual bukan aspek internal seperti akhlak keislaman yang bisa dibangun melalui amal," utaranya. 
Meski demikian, Hugh, yang baru saja menyelesaikan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur untuk melihat beberapa kampung minoritas Islam ini, menikmati hari-harinya sebagai seorang Muslim Ekspatriat di Indonesia dan tentunya untuk berpuasa Ramadan di Indonesia bersama keluarga.

Indonesia jadi tempat belajar Islam
Indonesia yang merupakan negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia, memang menarik bagi umat Muslim yang ingin menyelami budaya Islam.

Tak ayal, Indonesia seringkali dijadikan negara rujukan oleh Muslim mancanegara yang ingin belajar dan mendalami ajaran Islam.

Seperti yang dituturkan Imam Syafi’i dari pondok pesantren ‘Lembaga Bina Santri Mandiri’, Parung, Bogor. Tahun ini, ada 29 mahasiswa asal Pattani, Thailand, yang tinggal di pesantren binaannya.

Mereka semua adalah mahasiswa program sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) yang sengaja ‘mondok’ atau tinggal di pesantrennya agar lebih akrab dengan budaya Islam Indonesia.
Sebuah ruang kelas di SMP Islam Prestasi ‘Al-Mubtadi’, Bantul, Yogyakarta. Selain sekolah umum bercorak Islami, hadirnya pesantren di berbagai daerah juga mewarnai pengajaran Islam di Indonesia.
Hal itu juga dibenarkan oleh Ustad Jauhari, pengasuh Lembaga Bina Santri Mandiri. Menurutnya, selama berada di Indonesia, muda-mudi asal Thailand itu banyak belajar soal tradisi pesantren.

“Di sini, anak-anak itu belajar Al-Quran, kitab kuning, belajar bahasa Arab dan nilai-nilai lain seperti shalat berjamaah dan shalat malam,” sebut sang ustad.
Imam Syafi’i menuturkan, secara umum, tradisi Islam yang ditunjukkan ke-29 mahasiswa itu hampir sama dengan Muslim Indonesia, sehingga pihak pesantrennya tak menemui hambatan berarti.

Tantangan justru datang dari segi bahasa dan juga selera kuliner. “Mereka kan berbicara dengan bahasa melayu Thailand yang agak berbeda dengan bahasa Indonesia dan dengan melayu Malaysia sekalipun, jadi ini adalah kendala. Tapi mereka sempat kursus bahasa Indonesia memang,” jelasnya kepada ABC.

Ia menambahkan, “ Soal makanan, itu juga susah. Mungkin mereka kurang cocok dengan selera masakan kita, jadi agak susah kalau menyangkut makanan.”

Selain pesantren yang dibinanya, Imam, yang juga pengurus ‘Rabithoh Mahid Al-Islamiyah’ yakni organisasi sayap NU yang menangani pesantren, berujar, ada banyak pesantren lainnya yang menerima mahasiswa atau warga asing yang ingin memperdalam Islam.

Ketika ditemui pada sebuah acara buka bersama di Jakarta, pertengahan Juli lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj, mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan, organisasi yang dipimpinnya seringkali menerima tamu asing, misalnya saja dari Libya, yang ingin belajar Islam di pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.