Sektor Swasta Australia Kerjasama Berdayakan Pengungsi di Kenya Lewat Bola

Sektor Swasta Australia Kerjasama Berdayakan Pengungsi di Kenya Lewat Bola

Sektor Swasta Australia Kerjasama Berdayakan Pengungsi di Kenya Lewat Bola

Terbit 29 May 2016, 20:02 AEST

Apa yang dimulai sebagai proyek kecil untuk memberikan bola sepak bola dan pakaian kepada para pengungsi, kini, telah menarik dukungan perusahaan Australia, dengan rencana besar untuk menjadi sebuah organisasi non-pemerintah formal.

Tahun lalu, pengusaha Adelaide, Ian Smith, membantu mengambil pengiriman peralatan sepak bola ke salah satu kamp pengungsi terbesar di Kenya dan, satu tahun berikutnya, ia beserta rekan-rekannya kembali ke kamp pengungsi Kakuma, rumah bagi sekitar 180.000 orang.

Dalam perjalanan terbaru ini, bergabung bersamanya adalah mantan penghuni kamp yang paling terkenal, pemain sepak bola professional, Awer Mabil.

Ia dan saudara laki-lakinyanya meninggalkan kamp Kakuma sekitar satu dekade lalu.

Awer melanjutkan karir untuk bermain di klub Adelaide United, di Liga Sepakbola ‘A-League’, sebelum ia menandatangani kontrak dengan klub Liga Super Denmark, FC Midtjylland, tahun lalu.

Kakak beradik itu adalah otak di balik inisiatif ‘Barefoot ke Boots’ (BTB), yang menyediakan sepatu olahraga, baju, dan bola untuk pengungsi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Ian dan mantan diplomat, Rachael West membantu kakak adik itu mengembangkan proyek BTB.

"Perjalanan pertama yang kami lakukan ke Kakuma ... kami membawa baju sepak bola seberat 500 kilogram, tapi kemudian di saat kami duduk dan berbicara dengan beberapa pengungsi, kami menyadari bahwa peluang dan potensi proyek kecil ini bisa membantu dalam cara lain," jelas Ian.

Ia menerangkan, "Kami berbicara dengan mereka tentang kebutuhan mereka dalam kesehatan dan pendidikan sehingga saya benar-benar menggambarkan proyek ini sekarang sebagai 'pembungkus di luarnya adalah sepak bola, tapi di dalanya ada berbagai hal lain."

Perjalanan pekan ini ke kamp Kenya akan mengirimkan laptop dan peralatan sepak bola.

Komisaris Tinggi Australia ke Kenya, John Feakes, akan bergabung dengan kelompok ini.

Ian mengatakan, hadiah terbesar yang bisa diberikan inisiatif BTB ke pengungsi adalah "pengakuan bahwa mereka diperhatikan oleh banyak orang di seluruh dunia".

Ia menyebut, kamp pengungsi ini sekarang memiliki lebih dari 400 tim sepak bola dan dua klub terbaik akan bertarung selama kunjungan pekan ini.

"Itu memberi Anda gambaran tentang bagaimana persaingannya, jadi kami berharap untuk menyajikan hadiah tahunan atau piala tahunan untuk pemenang," sebut Ian.

Panggilan video antara anak-anak di kamp dengan beberapa siswa dari sebuah sekolah di Adelaide juga digelar.

Dukungan swasta untuk inisiatif BTB

Ian mengatakan, proyek ini telah menarik perhatian perusahaan swasta Australia.

"Ini tentang bagaimana Anda bisa berkolaborasi, bagaimana Anda bisa bergabung dengan orang lain yang melihat visi ... dan ketika Anda pergi ke sana dan mendengar cerita dari orang-orang ini Anda tergerak untuk membantu," ungkapnya.

BTB sekarang memiliki sebuah dewan pengurus, dengan mantan direktur Qantas, Margaret Jackson, dan anggota komite FIFA, Moya Dodd, di antara para anggotanya.

Rencana BTB berikutnya adalah untuk meresmikan struktur dan berusaha untuk diakui sebagai organisasi non-pemerintah (NGO) oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Inisiatif ini ingin menjadi sebuah organisasi yang disetujui di bawah Skema Pengurangan Bantuan Luar Negeri.

"Ketika Anda berhadapan dengan penerimaan barang atau penerimaan uang, Anda harus memiliki struktur yang tepat, termasuk harus terdaftar sebagai LSM yang bisa bekerja bersama LSM lain atau tentu saja pemerintah dan itu adalah proses yang panjang," jelas Ian.

Ia lantas menuturkan, "Kami melihat ini sebagai sebuah proyek 10 tahun plus, itu bukan hanya untuk jangka pendek dan memang tak bisa, mengingat sifat dari krisis pengungsi saat ini."

Proyek ini juga berencana untuk memberi hingga 20.000 pembalut yang bisa digunakan kembali bagi para perempuan di kamp, sebuah langkah yang bertujuan untuk memungkinkan mereka menghadiri sekolah reguler dan ambil bagian dalam olahraga.