Polisi Thai gunakan gas airmata & granat dalam hadapi demonstran
Diperbaharui
Polisi anti-huruhara di Thailand telah menggunakan lagi gas air mata dan granat dalam bentrokan dengan para demonstran anti-pemerintah di jalan-jalan kota Bangkok, dimana dua orang tewas dan hampir 400 cedera.
Tiga satuan militer tak bersenjata dari Angkatan Darat, Laut dan Udara telah dikerahkan untuk membantu polisi.
Dalam empat bulan terakhir ini, para demonstran melancarkan kampanye untuk menumbangkan pemerintah karena hubungannya yang erat dengan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawtra yang digulingkan.
Thaksin lari dari penyidangan korupsi dalam bulan Agustus, dan sekarang meminta suaka politik di Inggris.
Perdana Menteri Somchai Wongsawat --yang baru tiga minggu memegang jabatan-- mengatakan tidak akan mengundurkan diri ataupun menyatakan berlakunya keadaan darurat.
Sementara itu, orang yang ditugasi mengakhiri pendudukan kompleks gedung pemerintah oleh para pemrotes telah mengundurkan diri.
Deputi Perdana Menteri Chavalit Yongchaiyudh mengatakan ia mengundurkan diri gara-gara penindakan keras protes baru anti pemerintah, dimana polisi dua kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran pada hari Selasa, mengakibatkan cederanya 116 orang.
Para demonstran berpawai ke parlemen Senin malam untuk memprotes rencana amandemen konstitusi yang akan menguntungkan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.
Mereka mengurung ratusan anggota parlemen dan senator di dalam gedung parlemen, sehingga Perdana Menteri dan lima orang menterinya terpaksa memanjat pagar untuk keluar dari kurungan massa.







