Arti musik bagi perantau Indonesia di Melbourne: Australia Day 2013

Arti musik bagi perantau Indonesia di Melbourne: Australia Day 2013

Arti musik bagi perantau Indonesia di Melbourne: Australia Day 2013

Diperbaharui 25 January 2013, 16:00 AEDT

Bagi mereka yang merantau ke luar negeri, apalagi kalau sudah puluhan tahun, musik bukan hanya menjadi hiburan, tapi juga pelampiasan dan kesempatan berbagi cerita dengan sesama perantau lainnya. Caim Sadikin, yang pernah dijuluki ‘Duta Besar Reggae’ oleh komunitas Jamaika di Melbourne, bercerita tentang pengalamannya bermusik di Australia dan juga tentang acara khusus Australia Day di Konsulat Jenderal RI.

Di tengah-tengah kawasan perumahan di kota Melbourne, sebuah dunia pertemuan Australia dengan Indonesia tercipta. Aroma kretek bercampur dengan barbeque Australia, aksen dari berbagai wilayah Indonesia bercampur dengan aksen kental Australia, dan, seperti di kebanyakan acara kumpul-kumpul Indonesia, selalu ada beberapa gitar yang melatar belakangi bukan hanya lagu-lagu nostalgia, tapi juga menjadi sebuah sarana pelampiasan bagi para perantau yang melepas rindu.    

Itu adalah gambaran dari acara yang sering diadakan oleh beberapa anggota komunitas Indonesia di Melbourne, termasuk mereka yang menjadi bagian dari ‘Melbourne Indo Musos Group’ (‘muso’ adalah slang Australia untuk ‘musisi’). Salah satunya, Caim Sadikin, yang memindahkan kehidupannya dari Indonesia ke Australia pada tahun 1980

“Untuk kita-kita di Melbourne di sini tuh kita sibuk, waktu untuk liburan sulit. Tapi kalau kita memang ada jiwa musik, kita menyempatkan diri untuk berkumpul, ngejam di satu tempat, sambil ngopi-ngopi…karena itu pelampiasan dari kita semuanya supaya untuk seneng-seneng. Kita di sini jauh, merantau, jadi di sini hiburan satu-satunya untuk musisi itu ya musik.”

Untuk merayakan Australia Day (26 Januari), kelompok ini memutuskan untuk memperluas jangkauan musik mereka untuk komunitas Indonesia lainnya di tempat yang sering menjadi lahan pertemuan masyarakat Indonesia: Konsulat Jenderal RI, di sebelah selatan kota Melbourne.

“Biasanya kita bikin acara Australian Day itu di taman, tapi kalau di taman itu harus pagi, nyari posisi, karena banyak orang lain yang celebrate Australia Day. TJ (Tiraharjo) sama Iben (Latif) mengusulkan ide di konsulat, dan kita diijinin di situ.”

Selain acara musik, akan ada tarian dan pencak silat yang ditampilkan di acara tersebut.

Acara kumpul-kumpul ini akan memiliki format yang juga sangat ‘Indonesia’, di mana siapa pun yang ingin naik ke atas panggung, untuk menyanyi atau membaca puisi misalnya, bisa melakukan hal tersebut tanpa halangan.  “Hubungi saya saja nanti di sana,” kata Caim, untuk mereka di Melbourne yang ingin berbagi kemampuan di atas panggung.

Cool Bananas

Caim memiliki pengalaman yang menarik sebagai musisi di kota Melbourne. Selama sepuluh tahun, dia memimpin sebuah band Reggae, Cool Bananas, yang populer di kota tersebut selama aktif pada tahun 1982-1992. Dia adalah satu-satunya orang Indonesia di band tersebut.

“Setiap weekend [Cool Bananas] main di mana-mana. Tapi yang jadi house band di Richmond Tavern, selama sepuluh tahun itu kita main setiap malem minggu. Jadi banyak orang Indonesia yang dateng ke Melbourne itu mampir ke situ. Tapi setelah itu muncul reggae-reggae yang lain.”

Karena keaktifannya dalam dunia musik reggae di Melbourne, Caim dinobatkan oleh teman-temannya dari Jamaika di Melbourne sebagai ‘reggae ambassador’. Kedekatannya dengan para musisi dari Jamaika memberinya kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh reggae dunia, seperti anggota band Bob Marley dan UB40.

“Iya, orang-orang Jamaika [di Melbourne] dulu itu punya grup, Survival Reggae Club namanya. Saya sebagai member, karena promote lagu-lagu reggae pada saat itu. Setiap saat ada band dari luar, saya pernah support juga. Bandnya Bob Marley, UB40. Berkenalan dengan orang-orang yang bersangkutan dengan reggae.”

Setelah lebih dari dua dekade tinggal di Melbourne, Caim sudah melihat perubahan yang cukup besar dalam dunia musik di kota ini, terutama yang merupakan sumbangan masyarakat Indonesia, termasuk yang dia mainkan.

“[Sekarang] macem-macem musiknya. Dulu kita memang menuju satu tipe: blues, reggae. Tapi kalau sekarang ini istilahnya seperti makan. Kadang-kadang kita mau nasi goreng, kadang-kadang mau gado-gado, tapi semua tetap makanan. Jadi kita main musik itu ada lagu dangdut, lagu Indonesia dulu, lagu sekarang, blues, rock, macem-macem. Mencakup seluruh jenis musik.”

Caim, yang mengaku ingin mendukung orang-orang Indonesia yang ingin bermain musik di Melbourne, mengatakan kesempatan bermain musik di Melbourne adalah sesuatu yang sangat berharga.

“Yang jelas kalau musik, kalau udah musisi, sulit untuk meninggalkan. Istilahnya kalau udah di darah, seni udah di dalam jiwa kita, itu sulit untuk dilepaskan. Jadi sebaiknya kalau kita memang ada darah musik, lanjutkan aja…di Melbourne itu pilihannya banyak, studionya banyak di sini. Channelnya gampang sekali untuk masuk ke studio, untuk rekaman, itu bisa kita jangkau. Kalau memang ada grup yang bisa dibikin di Melbourne, jalankan aja, karena itu memang kesempatan yang bagus sekali.”

Melbourne Indo Musos Group mengadakan acara Australia Day di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, 72 Queens Road, Melbourne. Acara dimulai pada tanggal 26 Januari pukul 10 pagi sampai 4 sore.

Komentar

Komentar tidak akan diterbitkan sebelum dimoderatori. Dengan meninggalkan komentar, Anda setuju mengikuti tata tertib.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.