Berlebaran dengan keluarga Australia

Berlebaran dengan keluarga Australia

Berlebaran dengan keluarga Australia

Diperbaharui 22 August 2012, 12:08 AEST

Inestia, 16 tahun, pelajar asal Yogyakarta tampak riang bertemu dengan kawan-kawan pelajar Indonesia lainnya di halaman KJRI di bilangan Albert Park Melbourne.

Selesai sholat Ied, Ines panggilan akrab Inestia bertukar cerita dengan sesama pelajar Indonesia asal Yogyakarta yang tengah mengikuti program pertukaran pelajar Australia-Indonesia.

“Senang rasa ketemu teman-teman dari Yogya di sini,” ujar Ines dengan sumringah.

“Tidak kangen keluarga?”

Sebelum Ines sempat membuka mulut, ‘ada pelajar lainnya menjawab,” enggak…enggak kangen….kan bisa jauh dari orang-tua! Kan ini pengalaman pertama pergi dari rumah, lagi pula disini kami juga punya keluarga angkat”.

“Saya bicara secara berkala dengan keluarga menggunakan Skype, tidak perlu bayar dan tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga di Yogya, jadi tidak terlalu terasa rindu dengan keluarga,“ ujar Ines kalem

Sementara ibu ‘angkat’ Ines, Nancy de Keijzer menatap dari kejauhan dengan perasaan lega.

“Senang melihat Ines bisa merayakan hari raya bersama orang-orang Indonesia disini. Saya tahu perayaan Lebaran adalah hal yang penting bagi orang Indonesia, berkumpul dengan keluarga seperti Natal buat kita, jadi tadi saya bangun pagi dengan anak saya Rebekah mengantar Ines ke sini agar dia bisa sholat Ied,” ujarnya dengan bersemangat.

Sambil mengunyah kue wingko yang disediakan pihak Konjen, Nancy menuturkan pengalaman mempunyai pelajar Indonesia yang tinggal di rumahya. Menurutnya pengalaman tersebut benar-benar menarik.

“Saya kagum sekali dengan disiplin dan keteguhan iman Ines. Dia salat lima waktu dan juga puasa penuh. Padahal kan tidak ada yang mengawasi apakah dia puasa atau tidak. Kami semua tidak puasa, dan agak tidak enak juga kalo makan di depan dia, takut menyinggung perasaannya atau dia tergoda ikut makan. Pokoknya dia luar biasa,” ujar Nancy.

Setiap pagi Nancy bangun pagi menyiapkan sahur buat Ines dan memasak nasi untuk memastikan agar Ines tetap kuat  menjalankan ibadah Ramadhan.

“Hari pertama saya bangun jam 3 pagi, saya tidak tahu kalau Imsyak di Australia ternyata jam 5.30 pagi. Saya ngantuk sekali sampai kantor, hampir saja saya kecelakaan saat menyetir. Setelah Ines mendapatkan jadwal Imsyak dan Magrib, baru hari ketiga saya bangun tidak terlalu pagi..ha..ha…,” tambah Nancy.

Bagi warga Australia bangun sebelum jam 5 pagi adalah hal yang luar-biasa, karena itu Nancy menganggap pengalaman menyediakan makanan sahur untuk Inez adalah pengalaman yang unik.

“Sekarang saya tidak perlu bangun pagi lagi, sudah Lebaran ya, tidak perlu menyediakan sahur…ha..ha..ha,” katanya gembira.

Adalah Rebekah, anak Nancy yang pertama kali menginginkan agar keluarganya menampung pelajar Indonesia di rumahnya.

“Saya belajar bahasa Indonesia di sekolah. Guru saya menanyakan di kelas, apakah ada diantara kami yang bersedia ditempati pelajar Indonesia. Saya langsung angkat tangan, saya ingin bahasa Indonesia saya lancar. Jadi saya senang ada Ines di rumah,” ujar Rebekah dengan mata sedikit mengantuk. Ia tampak tidak keberatan harus bangun pagi untuk mengantar Ines Sholat Ied.

Menurut Rebekah orang Indonesia sangat ramah dan begitu peduli dengan orang lain. Sejak Ines tinggal di rumahnya Rebekah belajar banyak tentang budaya Indonesia dan memahami orang Indonesia secara langsung. 

Sementara bagi Ines sendiri, ia kini belajar untuk bisa tepat waktu.

“Sebelumnya saya menganggap sepele datang telat dan tidak tepat waktu mengerjakan sesuatu. Sekarang saya sudah bisa menghargai tetap ‘on time’ mengerjakan semua hal,“ kata Ines.

Sementara itu Anne, pelajar dari Bandung tidak seberuntung Ines. Ibu ‘angkat’ Anne, Lyndell tidak menyediakan makan sahur bagi gadis yang berjilbab itu.

“Pokoknya semua makanan ada di dapur, saya tidak bangun pagi menyediakan sahur…berat sekali, dia bisa menyediakan makan sendiri,“ kata Lyndell Cope.

Bersama suaminya Rod Cope dan anak perempuannya Olivia, mereka mengantar Anne dari lokasi peternakan di Middle Tarwin ke Melbourne.

“Ya kira-kira dua jam setengah dari rumah kami menuju ke Melbourne. Kami berangkat jam 6 pagi. Kami ingin Anne bisa merayakan Lebaran dengan kawan-kawannya disini. Saya tahu itu penting bagi dia, “ kata Rod, bapak angkat’ Anne.

Sebelumnya keluarga Rod Cope menerima pelajar dari Turki serta pelajar dari Perancis, menerima pelajar asing di rumahnya bukan sesuatu yang baru.

“Bahasa Indonesia saya sekarang lebih baik karena ada Anne di rumah,“ kata Olivia saudara angkat Anne yang juga belajar bahasa Indonesia di sekolahnya.

Ines dan Anne barangkali cukup beruntung mendapatkan orangtua ‘angkat’ yang bersedia bersusah payah mengantarkan mereka ke Melbourne.

Tidak semua orang tua angkat peserta pertukaran pelajar dari Yogya dan Bandung yang berjumlah 16 orang itu bersedia bangun pagi-pagi untuk mengantar mereka berlebaran jauh-jauh ke Melbourne.

Agus misalnya, hanya diantarkan saudara ‘angkat’ menggunakan tram. Sementara bagian pelajar yang tinggal di daerah terpencil bersama keluarga Australia di negara bagian Victoria, terpaksa tidak bisa datang berlebaran  karena membutuhkan waktu berjam-jam untuk pergi ke Melbourne.

Tidak mudah mendapatkan keluarga

Melaksanakan program pertukaran pelajar Australia-Indonesia bukan hal mudah. Lester Levinson, Kordinator Australian Indonesian Association mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan orangtua ‘angkat’ yang bersedia menampung pelajar Indonesia.

“Banyak sekali program pertukaran pelajar asing di Australia. Ada yang dari Perancis, dari Italia juga dari Israel.

Bagi mereka yang tidak punya hubungan dengan Indonesia, misalnya anaknya belajar bahasa Indonesia atau pernah pergi ke Bali, mereka tidak akan  tertarik menampung pelajar Indonesia.

"Banyak keluarga di sini yang lebih tertarik dengan pelajar Perancis, karena keluarga mereka bisa belajar bahasa Perancis,“ ujar Levinton.

Lebih jauh Levinson mengatakan kondisi ekonomi yang sulit dan inflasi yang tinggi di Australia yang juga menjadi factor mengapa banyak keluarga enggan menerima pelajar Indonesia.

Namun bagi keluarga Cope menerima pelajar dari Indonesia adalah penting, sebab Indonesia adalah negara tetangga terdekat, karena itu memahami budaya Indonesia dengan menerima pelajar Indonesia membantu mereka memahami Indonesia.

“Kami tidak mengalami masalah keuangan meskipun Anne tinggal di rumah kami, tidak banyak pengeluaran kok. Dibandingkan keuntungan mendapatkan pengalaman budaya dari pelajar Indonesia, apa yang kami peroleh  jauh lebih besar dari biaya yang kami keluarkan,” ujar Rod Cope.

Menyaksikan  keluarga-keluarga Australia bercampur baur dengan anak-anak ‘angkat’ mereka berlebaran, tampak sekali persahabatan yang tulus.

Seperti layaknya keluarga sendiri, sang ibu dan bapak memberikan perhatian yang cukup besar kepada sang anak ‘angkat’.

Mereka tampak ikut bahagia menyaksikan anak angkat mereka bisa berbagi kebahagian di hari raya Idul-Fitri meskipun pelajar-pelajar Indonesia itu bukan anak mereka sendiri.

Kontributor

Dian Islamiati Fatwa

Dian Islamiati Fatwa

Produser

Karir Dian di dunia jurnalistik dan penyiaran dimulai sejak tahun 1992.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.