Busana muslim dari Indonesia semakin mendunia

Busana muslim dari Indonesia semakin mendunia

Busana muslim dari Indonesia semakin mendunia

Diperbaharui 10 December 2012, 18:02 AEST

Jika Paris, Milan, dan New York sudah dikenal sebagai pusat mode, maka Jakarta akan diperkirakan sebagai ikon dari busana Muslim di dunia.

Perancang ternama asal Indonesia, Iva Lativah dan Dian Pelangi berkunjung ke Melbourne, Australia.

Akhir pekan lalu, mereka menggelar fashion show yang bertajuk 'Wonderful Indonesia: Harmony in Colors' di Sofitel Hotel, Melbourne.

Acara yang digelar oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreativ bekerja sama dengan Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne ini, tidak hanya sekedar menampilkan busana Muslim saja, tetapi juga menjadi ajang untuk mempromosikan Indonesia.

Seperti yang diungkapkan oleh desainer Iva Lativah yang telah mendirikan Galeri Iva Lativah di Bandung Jawa Barat sejak tahun 1989.

"Perkembangan dan perekonomian dari industri busana Muslim di Indonesia sangat pesat, karena itu pemerintah sekarang lebih melirik pada industri ini. Makanya, kalau ada acara promosi Indonesia di luar negeri juga yang ditonjolkan adalah busana Muslim," ujar Iva.

Hal senada juga diakui oleh Dian Pelangi, yang sudah ketiga kalinya ke Melbourne untuk menggelar fashion show busana Muslim.

"Menurut aku, merk-merk busana Muslim paling banyak itu di Indonesia, sangat beragam. Para designernya pun terus berinovasi, lebih banyak warna, dan terus bereksplorasi," tegas Dian.

Dian pun mengatakan sangat mungkin jika Jakarta akan menjadi ibu kota bagi busana Muslim di dunia.

"Sekarang di dunia maya, sudah banyak bloger Muslim dan ramai dibicarakan di jejaring sosial bahwa mereka setuju bahwa Indonesia pantas dijadikan pusat fashion bagi umat Muslim dunia. Jadi kita harus mendukung itu," jelasnya lagi.

Warna-warni Indonesia

Rancangan yang ditampilkan oleh kedua designer, Iva Lativah dan Dian Pelangi memiliki warna-warna yang sangat beragam.

Jika biasanya baju bagi Muslimah didominasi oleh warna hitam atau putih, maka kali ini mereka menggunakan warna yang cukup berani, tetapi tetap natural, seperti merah, kuning, hijau, dan biru.

Potongan gaun-gaun, yang dikenal dengan istilah gamis, pun telah dimodifikasi menjadi lebih modern dengan tambahan detail-detail, meski tetap berpegang teguh pada prinsip Islam soal pakaian, yakni panjang dan longgar.

"Rancangan saya lebih berwarna dan malam ini pun lebih banyak surprise dan lebih Indonesia lagi. Dulu saya banyak menggunakan jumputan Palembang saja, maka sekarang kita campur pakai batik, pakai tenun, sehingga perpaduan kain-kain tradisional lebih terlihat lagi," jelas Dian soal rancangannya kali ini.

"Dan khusus pagelaran di Melbourne, saya telah sesuaikan juga, dengan lebih modern, sudah disesuaikan dengan selera Muslimah di Australia. Sehingga mereka tertarik dan bisa menggunakannya di segala musim."

Iva Lativah pun memiliki rancangan yang tidak hanya mengedepankan baju panjang ala Muslimah saja, tetapi kental dengan corak dan detail Indonesia.

"Kali ini saya ingin lebih mengangkat budaya Indonesia, terutama karena ini show di luar negeri, jadi memasukan juga unsur pakaian daerah dan tradisional," ujar Iva.

Iva mengaku sekarang semakin banyak peminat terhadap busana Muslim dan penggunaan hijab.

"Pada awal saya membuat busana untuk kaum Muslimah, sekitar tahun 80-an, masih sangat minim sekali."

"Bahkan pada sekitar akhir 70-an, penggunaan baju Muslim itu dilarang karena harus ada seragam. Pada waktu itu kebetulan saya, ayah saya seorang ulama dan Rektor Unisba, sehingga banyak yang protes. Di saat itulah saya terpacu mendesain baju khusus Muslimah," kenang Iva.

Antara 'modis' dan 'Islami'

Penggunaan hijab, atau penutup kepala, dan baju panjang yang longgar dalam agama Islam adalah bertujuan agar para wanita melindungi auratnya dan tetap tampil sederhana.

Tak heran, warna-warna pada abaya, sebutan baju panjang yang digunakan kaum Muslimah, seringkali berwarna hitam agar tidak mencolok.

Namun, dengan perkembangan fashion diiringi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, para Muslimah pun ingin menjadi lebih gaya.

Tapi apakah menjadi kontradiksi antara tren busana Muslim yang lebih modis dengan prinsip Islam yang menganjurkan kesederhanaan?

"Wanita manapun senang keindahan, mereka ingin terlihat gaya, karenanya tidak ada masalah asalkan masih dalam sesuai syariah Islam," ujar Iva.

Sama seperti halnya Iva, Dian pun mengatakan tak ada yang melanggar prinsip keagamaan, asalkan tidak keluar batas.

"Allah pun menyukai keindahan," tegas Dian.

"Jika sebelumnya wanita yang menggunakan hijab diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif, justru sekarang saatnya memperlihatkan bahwa wanita Muslim pun bisa tampil modis dan memukau," tambahnya.

Acara 'Wonderful Harmony' yang digelar di Melbourne ini pun dihadiri oleh para tamu, yang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga warga Melbourne, sejumlah perwakilan dari negara-negara lain.

Kontributor

Erwin Renaldi

Erwin Renaldi

Produser

Dikenal sebagai presenter, Erwin juga memproduksi sejumlah video untuk website dan TV di Indonesia. Ia bergabung ABC sejak pertengahan tahun 2011.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.