Caleg Perempuan

Caleg Perempuan

Caleg Perempuan

Diperbaharui 2 April 2014, 12:27 AEDT

Calon legislatif perempuan dalam pemilu 2014 ini masih menghadapi masalah klasik.

Meski banyak peningkatan namun kebanyakan calon legislative perempuan diajukan hanya untuk sekedar memenuhi ketentuan quota 30% caleg perempuan saja. 

Masa kampanye 2014 hanya tersisa satu pekan lagi. Seluruh partai politik dan calon legislative yang bertempur dalam pesta demokrasi kali ini, makin keras menggenjot usahanya untuk meraih simpati masyarakat, sebelum hari pencoblosan 9 April 2014 mendatang.

Kesibukan serupa juga dialami Sahat Farida Berlian, salah satu calon legislative perempuan dari PDI Perjuangan di daerah pemilihan 4 kota depok Jawa Barat. Untuk bisa duduk di kursi dewan perwakilan kota Depok, Sahat harus mampu meraih 7 ribu suara.

Sahat yang memiliki latar belakang aktifis ini mengaku sebagai caleg perempuan dia harus berusaha ekstra keras dalam bersaing meraih dukungan warga.

Visi misi memajukan kesejahteraan dan hak perempuan serta anak yang diusungnya tidak selalu menjadi alat ampuh untuk meraih simpati warga, terutama pemilih perempuan. Sebaliknya menurut Sahat, kekuatan fisik dan materil masih menjadi hal utama yang dilirik warga pemilih di daerahnya.

"Tantangannya pertama kalau berhadapan dengan masyarakat, mungkin saya tidak sesuai dengan harapan masyarakat akan kebutuhan mereka terhadap caleg cantik, seksi dan banyak uang. Hari ini pemahaman mereka terhadap caleg perempuan bisa lebih royal kepada konstituen, ya bagi-bagi kerudung, bagi-bagi uang jajan'" ujarnya.

Namun menurut Sahat tantangan terbesar justru mengatasi persaingan dengan calon legislative pria yang dinilainya kurang fair.

“Dua minggu menjelang pemilihan, partai lain ekspansi mencari lumbung suara, nih caleg laki-laki yang banyak duit kebetulan dari partai lain niban ngasih sejadah ... ngasih soundsystem, susu, segala macam yang saya dan temen2 lain tidak melakukan gaya seperti itu," tambah Sahat Farida Berlian

Sementara situasi yang lebih baik tampaknya dialami para caleg perempuan incumbent. Seperti diungkapkan Rifqah Annisa anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 dari Partai Keadilan Sejahtera yang pada pemilu kali ini mencalonkan diri lagi untuk DPRD DKI Jakarta daerah Pemilihan Jakarta Selatan. Sebagai anggota legislative, Rifqoh sudah memiliki basis jaringan yang kuat dan konstituennya tinggal mempertanyakan saja kinerjanya selama ini. Namun diakui Rifqoh tantangan terbesar calon legislative perempuan dalam bersaing dengan caleg laki-laki adalah di jaringan.

Titi Sumbung dari Koalisi Perempuan untuk Keadilan dan Demokrasi menunjuk tidak adanya pengkaderan perempuan di partai politik sebagai biang penyebab sejumlah hambatan klasik  yang terus dihadapi caleg perempuan selama ini.

Untuk mengubah situasi ini menurut Titi Sumbung, ke depannya partai politik perlu diwajibkan untuk melakukan pengkaderan terhadap perempuan. Dan pintu masuk upaya itu sudah terbuka dengan dimenangkannya gugatan UU perlakuan khusus terhadap perempuan dalam pemerintahan yang diajukan aktifis perempuan ke Mahkamah Konstitusi baru-baru ini.

Namun selama parpol tidak serius melakukan pengkaderan terhadap perempuan, tampaknya citra caleg perempuan di masyarakat sulit berubah.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.