Ciliwung, bukan cuma banjir dan sampah

Ciliwung, bukan cuma banjir dan sampah

Ciliwung, bukan cuma banjir dan sampah

Diperbaharui 12 November 2012, 11:42 AEST

Sejumlah komunitas di Jakarta menggagas tanggal 11 November sebagai Hari Ciliwung. Dengan diperingati secara rutin setiap tahun, diharapkan upaya pemulihan dan konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dapat ditingkatkan dan lebih didukung masyarakat.

Ketika arsitek Batavia membentuk kota yang kemudian menjadi Jakarta, mereka mengikuti pola tata kota di Belanda dengan pembangunan kota di dua sisi sungai dan penyaluran parit-parit yang berjajar dan melintang. Dan tentunya sungai yang membelah ibukota dan mengalir panjang di provinsi Jawa Barat ini adalah Ciliwung. Tapi, kalau di abad-abad awal kota Batavia sungai ini bisa dilayari puluhan kapal dagang asing yang awaknya memuja kebersihan sungai ini, saat ini Ciliwung memiliki reputasi sebagai salah satu sungai terkotor di Indonesia. 

Tanggal 11 November dipilih sebagai Hari Ciliwung, karena tepat pada tanggal ini setahun lalu warga DKI Jakarta dikejutkan dengan penemuan bulus raksasa atau senggawang. Satwa bernama latin Chitra chitra javanensis itu masuk dalam daftar terancam punah International Union for Conservation of Nature. Senggawang inilah yang kemudian dijadikan maskot penyelamatan konservasi Ciliwung.

Menurut anggota Ciliwung Institute, forum kerja masyarakat yang menggagas Hari Ciliwung, Sudirman Asun, ekosistem di DAS Ciliwung memegang peran penting tidak hanya untuk manusia tapi juga sebagai kawasan konservasi flora dan fauna disekitarnya. Kondisi Ciliwung saat ini menurutnya masih patut dijaga dan dijadikan sumber pengetahuan.

“Pemberitaan media  selama ini tidak berimbang, yang diberitakan Ciliwung itu selalu bencana, sampah dan limbah, padahal potensi Ciliwung itu sangat besar yang belum tergarap. Ciliwung itu seperti laboratorium hidup yang bisa kita gali keilmuannya, buat studi anak-anak sekolah, tentang tumbuhan, tentang hewan, ikan-ikan dan lain-lain “

Tambahnya lagi, DAS Ciliwung di sejumlah tempat yang dilaluinya masih sangat bagus dan terjaga, seperti di kawasan Bojong Gede. Karena itu juga tempat ini dipilih untuk meluncurkan Hari Ciliwung untuk pertama kalinya tahun ini.

Mendesak diselamatkan

Ekosistem DAS Ciliwung sudah sangat mendesak diselamatkan. Hasil studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan bahwa 92 persen ikan di Ciliwung sudah punah. Sementara, lebih dari 60 persen jenis persen kerang-kerangan dan bangsa udang dan kepiting juga sudah punah.

Ciliwung saat ini juga menghadapi persoalan penyerobotan kawasan DAS atau daerah aliran sungai oleh pengembang  perumahan.

Meski demikian, menurut Sudirman Asun, Sungai Ciliwung masih memiliki potensial dan belum terlambat untuk diselamatkan.  Tidak seperti  sungai-sungai lain di Jakarta yang tingkat pencemarannya sudah parah, air sungai Ciliwung menurutnya masih bisa digunakan sebagai bahan baku air tawar yang bisa digunakan untuk air bersih.

“Idealnya air sungai Ciliwung itu harus bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku air tawar untuk memasok air bersih. Saat ini kan pasokan air bersih di Jakarta mengandalkan Sungai Citarum dan waduk Jatiluhur.”

Sementara itu inisiatif warga untuk menyelamatkan proses konservasi di Ciliwung ini diapresiasi kementerian Lingkungan Hidup. Menurut Kepala Sub Direktorat pemberdayaan masyarakat pemukiman dari kementerian negara lingkungan hidup, Panggung Supriyanto, inisiatif ini perlu terus didorong agar masyarakat mau terlibat aktif menyelamatkan DAS Ciliwung.

“Masyarakat sebagai aktor pencemar sungai, bisa juga menjadi aktor yang penyelamat konservasi sungai. Dan kalau  sudah ditetapkan sebagai Hari Ciliwung seperti ini berarti komitmen itu harus makin kuat. Ke depan jangan cuma dirayakan saja, tapi juga harus berusaha gimana Ciliwung terjaga.”

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.