Desakan agar pelaku kejahatan seksual terhadap anak dipenjara seumur hidup

Desakan agar pelaku kejahatan seksual terhadap anak dipenjara seumur hidup

Desakan agar pelaku kejahatan seksual terhadap anak dipenjara seumur hidup

Diperbaharui 14 January 2013, 17:33 AEDT

Aktivis perlindungan anak dan sebagian warga di Ibukota menuntut agar pelaku kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan dihukum penjara seumur hidup, atau sedikitnya 20 tahun. Mereka menilai sanksi hukum yang ada saat ini terlampau ringan sehingga tidak memberi efek jera dan memicu maraknya kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Indonesia mendesak pemerintah menerapkan sanksi hukum yang lebih  berat bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan.

Komnas Perlindungan Anak mengusulkan agar pelaku kejahatan seksual anak dan perempuan dipenjara minimal 20 tahun atau seumur hidup.

Tuntutan ini disampaikan Komnas PA bersama ratusan orang yang tergabung dalam Koalisi Aksi Solidaritas Darurat Nasional Terhadap Kejahatan Seksual Anak dan Perempuan saat menggelar unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta Pusat, hari Minggu (13/01).

"Ketika kejahatan seksual terjadi pada anak dan perempuan ini kan akan menjadi bebannya, nah tetapi pelakunya besoknya bisa dilihat lagi," kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Rata-rata pelaku kejahatan seksual hanya dijerat hukuman penjara kurang dari 10 tahun. Sanksi hukum yang ringan ini, menurut Arist tidak memberi efek jera dan tidak mencerminkan rasa keadilan bagi korban.

Pelaku berasal dari keluarga terdekat korban

Angka kasus kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data dari Komnas Perlindungan Anak mencatat, sepanjang 2012 lalu 62% kasus kekerasan seksual terjadi pada anak. Mayoritas korban berasal dari kalangan ekonomi menengah bawah.

Sementara itu, Muhammad Ichsan dari Komisi perlindungan anak Indonesia KPAI menyesalkan aksi kejahatan seksual ini, karena para pelakunya justru berasal dari lingkungan terdekat anak, yaitu orangtua kandung atau tiri, kakak, maupun kerabat terdekat.

"Dalam tiga tahun terakhir ini, pelakunya tidak berubah, adalah orang-orang terdekat.. Hanya sedikit modus-modus baru yang menggunakan teknologi, tapi biasanya orang terdekat," jelas Ichsan.

"Karena memang anak ini sangat gampang untuk ditekan, dibujuk rayu, dan sebagainya, sehingga ketika terjadi kekerasan atau penyerangan seksual ini, anak-anak tidak mampu melawan."

Sementara itu, angka kekerasan terhadap perempuan juga tidak kalah memprihatinkan. Komnas Perempuan mencatat telah terjadi ratusan ribu kekerasan yang diderita perempuan di Indonesia.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.