Habibie dan Ainun, kisah cinta yang ditulis oleh Romeo

Habibie dan Ainun, kisah cinta yang ditulis oleh Romeo

Habibie dan Ainun, kisah cinta yang ditulis oleh Romeo

Diperbaharui 16 January 2013, 14:57 AEDT

Habibie dan Ainun bisa jadi merupakan kisah Romeo dan Juliet versi Indonesia. Film yang diangkat dari novel karya mantan Presiden Indonesia ketiga, Bacharudin Jusuf Habibie ini telah memberikan inspirasi soal cinta sejati.

Jika Anda sudah mengenal kisah cinta nan romantis Romeo dan Juliet atau Layla dan Majnun, maka Indonesia kini tidak hanya memiliki dongeng Rama dan Shinta.

Cerita Habibie dan Ainun justru diangkat dari kisah nyata yang diangkat dari buku setebal 323 halaman yang ditulis oleh Habibie, mengenai perjalanan cintanya bersama Alm. Hasri Ainun Besari.

"Berbeda dengan cerita cinta lainnya, cerita ini ditulis oleh Romeonya sendiri," ujar Faozan Rizal, sutradara film Habibie & Ainun.

"Sama seperti di novelnya, film ini juga membuktikan adanya cinta sejati."

Mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa film ini kemudian disebut-sebut telah memecahkan rekor dalam sejarah perfilman Indonesia.

Tentunya, ditambah dengan kehebatan sang sutradara dalam menafsirkan gelora cinta Habibie dan Ainun yang kemudian menuangkannya ke dalam gambar.

Dalam waktu kurang dari dua minggu sejak pemutaran perdananya, film ini langsung menarik lebih dari dua juta orang penonton.

Faozan yang juga sudah terlibat dalam puluhan film dan pernah mendapatkan penghargaan dari Festival Film Bandung di tahun 2012 sebagai Penata Kamera Terpuji ini mengaku kalau tulisan dan video soal Bapak Habibie dengan mudah dapat ditemukan, tetapi tidak halnya soal Ibu Ainun.

Karenanya, ia pun banyak bolak-balik ke Jerman, bertanya kepada Pak Habibie soal Ibu Ainun.

"Waktu bertemu di Jerman, yang ia tanya cuma satu, siapa yang akan memerankan dirinya, dia juga bertanya emang mirip sama saya?"

Menanggapi soal beberapa film di Indonesia yang menuai kontroversi, seperti Cinta Tapi Beda, Faozan mengatakan film-film di Indonesia sebenarnya secara tema sudah baik.

"Namun masalahnya dari masyarakatnya untuk menerima perbedaan pendapat," ujarnya.

Simak wawancara bersama Faozan Rizal melalui audio yang telah disediakan.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.