Indonesia dan Mesir: Satu Bantal Dua Mimpi?

Indonesia dan Mesir: Satu Bantal Dua Mimpi?

Indonesia dan Mesir: Satu Bantal Dua Mimpi?

Terbit 6 February 2013, 13:42 AEST

Lapangan Tahrir di pusat ibukota Mesir Cairo (Al Qahirah) kini tidak pernah lagi sepi.

Dan tidak ada yang mampu memperkirakan kapan alun-alun itu akan kembali seperti sedia kala, tempat orang kongko-kongko di petang hari atau di kala libur.

Mesir, sebagaimana halnya dengan Indonesia akhirnya melengserkan diktator yang selama waktu puluhan tahun menyelenggarakan kekuasaan.

Bedanya, Indonesia boleh dikatakan 'aman tentram' menyusul lengsernya Suharto, sementara Mesir seakan masih harus bertarung dengan bayang-bayang Hosni Mubarak meski sang diktator telah terdepak dan terpelanting berkat daya rakyat.

Sebagaimana diketahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan untuk tetap menghadiri KTT Organisasi Konferensi Islam - OKI - yang diselenggarakan di ibukota Mesir itu meski pun keadaan di sana belum cukup kondusif.

Hery Sucipto adalah Pengamat Timur Tengah, Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam Universitas Muhammadiyah, Jakarta.

Dalam wawancara dengan Radio Australia Hery Sucipto mengupas apa yang sedang terjadi di negara itu.
 

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.