Jogja, kota pelajar dan makanan murah: pengalaman mahasiswi Australia

Jogja, kota pelajar dan makanan murah: pengalaman mahasiswi Australia

Jogja, kota pelajar dan makanan murah: pengalaman mahasiswi Australia

Diperbaharui 2 January 2013, 14:37 AEST

Kalau biasanya Bali lebih dikenal oleh wisatawan asal Australia, Jogja menjadi salah satu tujuan pelajar Australia. Salah satunya, Katrina, mengaku merasa betah berada di Jogja ketika berkuliah di kota tersebut. Apa saja yang ia kerjakan di Kota Gudeg ini dan apa tanggapannya mengenai anak-anak muda Indonesia?

Katrina Pemberton adalah salah satu anggota Australia Indonesia Youth Association (AIYA), sebuah organisasi pemuda Australia yang memiliki ketertarikan mendalam soal Indonesia. 

Sebagai salah satu bentuk ketertarikannya, mahasiswi yang sedang menjalani kuliah di bidang biologi dan Bahasa Indonesia ini pernah tinggal di kota Yogyakarta untuk berkuliah di Universitas Gajah Mada dan Universitas Sanata Dharma. Sebagai bagian dari kuliah tersebut, dia juga mendapat kesempatan untuk mengajar di sebuah kelas SMA di Indonesia sebagai bagian dari Program Pengalaman Lapangan.  

"[Murid-murid saya] selalu ingin mendengarkan saya bercerita soal Australia, tetapi kalau diajak bermain seperti tidak mau," ujar Katrina dalam Bahasa Indonesia yang fasih.

Pengalaman mengajar ini menjadi pengalaman yang paling berkesan selama berada di Indonesia.

Alasan ketertarikan Katrina terhadap negara dan budaya Indonesia adalah kesadaran bahwa Indonesia merupakan negara tetangga Australia.

"Saya sudah belajar bahasa Indonesia sejak Sekolah Menengah Pertama dan kemudian melanjutkannya hingga kuliah sekarang."

Saat pertama kali datang ke Jogja, Katrina langsung jatuh cinta dengan budaya Jogja.

Bahkan rencana yang hanya akan tinggal selama enam bulan pun terpaksa diperpanjang hingga setahun.

"Saya sangat suka sekali dengan Jogja, dengan budaya dan keramahan penduduknya."

Selain itu, ongkos hidup yang rendah juga menjadi alasan kebetahan. "Makanan murah sekali, nasi ayam sama es teh itu cuma sepuluh ribu rupiah," katanya. 

Bagaimana dengan perbedaan antara pemuda Australia dan Indonesia yang dia saksikan? Menurut Katrina, perbedaan yang paling terlihat adalah dalam hal penggunaan teknologi.

"Pemuda Indonesia selalu pakai Blackberry, dua hape (handphone). Di Australia pakai satu saja," ujarnya sambil tertawa.

Sementara, dia mengatakan bahwa kekerabatan antara pemuda Australia dan Indonesia bisa lebih ditingkatkan lagi.

"Misalnya saja para mahasiswa Indonesia di Australia kurang berbaur, dan mungkin salah satu alasannya adalah language barrier atau kesulitan berbahasa."

Simak wawancara selengkapnya bersama Katrina dalam audio yang telah disediakan.

Kontributor

Erwin Renaldi

Erwin Renaldi

Produser

Dikenal sebagai presenter, Erwin juga memproduksi sejumlah video untuk website dan TV di Indonesia. Ia bergabung ABC sejak pertengahan tahun 2011.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.