Kampanye One Billion Rising meningkatkan kepedulian soal kekerasan terhadap wanita

Kampanye One Billion Rising meningkatkan kepedulian soal kekerasan terhadap wanita

Kampanye One Billion Rising meningkatkan kepedulian soal kekerasan terhadap wanita

Diperbaharui 15 February 2013, 18:07 AEDT

Tanggal 14 Febuari tidak lagi dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, tetapi juga diperingati sebagai hari untuk meningkatkan kepedulian soal kekerasan yang kerap dialami perempuan. Berikut laporannya dari Kepulauan Fiji sampai Jakarta.

Kampanye yang mendunia ini dikenal dengan sebutan "One Billion Raising". Nama ini diambil dari perkiraan jumlah perempuan di dunia yang pernah mengalami kekerasan atau pemerkosaan dalam hidupnya.

Kampanye yang dilakukan serentak di dunia pada tanggal 14 Febuari ini langsung menjadi fenomena setelah jutaan orang melakukan 'flash mob' atau 'joget' bersama yang digelar di jalanan atau pusat-pusat kota. 

Di Fiji, Roshika Deo salah satu organizer dari kampanye mengatakan 'joget' dipakai sebagai bagian dari kampanye karena untuk menghubungkan budaya-budaya yang ada di dunia.

"Kita berharap gerakan ini akan menggoyang dunia, dan pada akhirnya membawa kepada kesadaran selain juga menghubungkan semua warga dunia untuk melakukan satu revolusi demi menghentikan kekerasan terhadap perempuan," ujar Roshika.

Di Kepulauan Marshal, gerakan One Billion Rising juga menjadi ajang pendidikan soal kesehatan reproduksi dan masalah-masalah yang dialami perempuan. Tetapi pesan yang disampaikan adalah sama yakni soal kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan di dalam rumah tangga, yang kadang menjadi tabu untuk dibicarakan.

"Kurangnya pendidikan adalah salah satu penyebabnya. Karenanya dalam kampanye ini kita mencoba untuk menggaungkan masalah ini kepada warga dan juga memberikan ilmu untuk generasi muda mengenai apa itu kekerasan dan bagaimana dampaknya terhadap kita yang memiliki hak sebagai manusia," jelas penyelenggara acara.

Di Jakarta, Indonesia, lebih dari 300 orang berkumpul di Monas. Pihak penyelanggara kepada reporter Iffah Nur Arifah mengatakan bahwa ia tidak menyangka kalau mendapat sambutan yang luar biasa. Kebanyakan dari yang datang adalah perempuan, dan mereka adalah aktivis perempuan atau yang sudah paham soal masalah ini.

"Alasan saya disini adalah karena bahkan meski sudah tahun 2013, kekerasan terhadap perempuan kok masih juga terjadi?," kata Elena Williams, salah satu partisipan yang berasal dari Australia.

'One Billion Rising' yang juga digelar di Jakarta mengajak para perempuan Indonesia untuk lebih waspada akan kekerasan.

"Jangan lupa, karena saya atau Anda, ibu Anda, kakak perempuan, tante, pacar Anda, bisa saja menjadi korban, dimanapun, kapanpun. Karenanya kita disini untuk meningkatkan kepedulian soal ini," ujar Dhyta Caturani yang juga salah satu aktivis perempuan.

Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Indoensia, ada sekitar 200 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan di tahun 2011. Angka ini meningkat 20 ribu kasus dari tahun sebelumnya. Kebanyakan dari kasus yang terjadi adalah kekerasan di dalam rumah tangga.

Salah seorang perempuan di Jakarta pun merasa keamanannya kian terancam.

"Sekarang lebih bahaya untuk perempuan naik kendaraan umum. Bahaya di siang hari, saya juga takut di sore hari apalagi waktu malam. Makanya, jika tidak ada perempuan di dalam kendaraan umum, lebih baik tidak jadi naik," aku salah satu perempuan.

Seperti apakah kampanye dan 'joget' bersama ini digelar? Simak foto-fotonya di halaman Facebook kami. 

 

 

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.