Kasus Sampang bukan konflik keluarga

Kasus Sampang bukan konflik keluarga

Kasus Sampang bukan konflik keluarga

Terbit 29 August 2012, 12:42 AEST

Kepolisian telah menetapkan satu orang tersangka dalam peristiwa penyerangan warga Syiah di Sampang Madura Minggu sore lalu (26/8).

Jumlah tersangka dalam kasus ini diperkirakan akan terus bertambah, karena hingga kini penyelidikan oleh polisi masih berlangsung.

Sementara itu sejumlah kalangan memprotes sikap pemerintah yang dinilai menyederhanakan konflik di Sampang Madura dengan menyebut kekerasan yang terjadi di daerah itu hanya dipicu konflik keluarga.

Setelah meninjau langsung lokasi peristiwa penyerangan warga Syiah di Sampang Madura dan meminta keterangan dari warga dan aparat setempat pada Senin (27/8), sejumlah Menteri dan pejabat tinggi menyimpulkan, peristiwa kekerasan yang menewaskan 2 warga Syiah tersebut bukanlah  konflik antara Syiah dan Sunni, melainkan konflik keluarga yang dilatar belakangi perseteruan dua saudara kandung, yakni Ustad Ta’jul Muluk yang beraliran Syiah dengan saudara kandungnya yang beraliran Sunni.  

Untuk itu pemerintah menyatakan akan berupaya untuk mendamaikan keduanya.

Hal ini dikatakan Menteri Agama, Suryadarma Ali di Jakarta.

“Ini adalah konflik keluarga yang kemudian menyeret konflik warga. Oleh karenanya tetap akan diupayakan tokoh-tokoh agama dan masyarkaat untuk membangun dialog antara kedua pengikut antara dua pengikut dari kakak  beradik ini dengan demikian bisa rekonsiliasi. Jika kakak beradik ini bisa rekonsiliasi maka pengikutnya dengan sendirinya juga bisa rekonsiliasi.”

Kesimpulan ini diprotes kalangan aktifis HAM.

Hasil investigasi yang dihimpun Aliansi Solidaritas Kasus Sampang menunjukan perselisihan keluarga antara pemimpin Syiah di Sampang, Tajul Muluk, dengan saudaranya baru terjadi pada tahun 2009, sementara warga Syiah di desa Karang Gayam Kecamatan Omben Sampang Madura sudah mengalami terror dan intimidasi sejak tahun 2004.

Aktifis Aliansi Solidaritas Kasus Sampang, Hertasning Ichlas, mengatakan sentiment kebencian terhadap warga Syiah di Sampang Madura ini dipicu kecemburuan ulama di Sampang Madura terhadap pengaruh pemimpin kelompok Syiah di Karang Gayam, Ustad Ta’jul Muluk.

Lebih lanjut Hertasning Ichlas mengatakan, sentimen kebencian dan anti Syiah ini kian diperparah dengan sentimen geopolitik dan lemahnya penegakan hukum.

Namun tudingan keterlibatan ulama Sunni dalam aksi kekerasan yang terjadi di Sampang Madura ini dibantah ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pusat, Said Agil Sirajd. 

Ia menegaskan kalau kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang Madura bukan digerakan oleh tokoh ulama NU setempat.  

Dan NU tidak membenarkan dakwah dengan cara kekerasan dan menganggap warga Syiah sebagai saudara.

Pemerintah belum memiliki solusi bagi mereka.

Namun warga Syiah itu mendesak untuk segera bisa kembali ke dusun mereka dan mendapat jaminan perlindungan untuk  hidup dengan tenang dan aman.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.