Kesuksesan internasional Navicula: pejuang musik, ekologi, dan sabun mandi

Kesuksesan internasional Navicula: pejuang musik, ekologi, dan sabun mandi

Kesuksesan internasional Navicula: pejuang musik, ekologi, dan sabun mandi

Diperbaharui 15 January 2013, 10:21 AEST

Navicula, band grunge asal Bali, menoreh prestasi setelah diundang untuk berpentas di festival seni bergengsi Sydney Festival 2013. Radio Australia berbincang dengan Robi, vokalis dan gitaris band yang baru saja pulang dari Amerika Serikat setelah memenangkan kompetisi internasional Rode Rockers. Film perjalanan mereka ke Amerika Serikat ini pun akan segera dirilis. Tapi apa yang membuat Navicula semangat terus berkarya (termasuk menerbitkan sabun mandi sendiri)? Ternyata bukan hanya musik, tapi juga berbagai tujuan sosial lainnya yang mereka bisa lakukan melalui musik.

Radio Australia (RA): Bagaimana rasanya bermain musik di negara lain?

Robi Navicula (RN): Exciting, karena crowd-nya baru, terus kalau kita biasa manggung di Indonesia mungkin presentasi audiens sudah lebih banyak yang tahu. Kalau di sini benar-benar baru, kita harus mempelajari medan, tapi adaptasi ini berlangsung sangat cepat sih, karena secara teknis performance baik live maupun recording, teknisnya hampir sama, tapi fasilitasnya berbeda.

RA: Di Australia, ada band-band berpengaruh untuk grunge seperti King Snake Roost, Beasts of Bourbon, The Scientists, selain Silverchair dan lain-lain. Anda juga sudah bertemu dengan musisi Australia seperti Paul Kelly dan Nick Cave (RN: Kita juga pernah main sepanggung dengan Wolfmother). Apa pengaruh Australia bagi Navicula?

RN: Navicula tumbuh di Bali, dan di Bali kan kulturnya kontras. Di satu sisi kebudayaan yang sangat menghargai budaya tradisional, di satu sisinya sendiri Bali sebagai melting pot, sangat terbuka dengan pengaruh asing. Dan di satu sisi sangat tradisional, di satu sisi sangat modern.

Australia di Bali persentasenya cukup besar; kita berinteraksi dengan komunitas ini, dan Navicula ada di tengah-tengah budaya lokal dan budaya asing, dan budaya asing ini banyak dikontribusi oleh seniman dan warga negara Australia di Bali.

Tempat kita studio latihan di Bali pun dimiliki Andrew, warga Australia yang menjadi guru di Bali. Dan kita latihan reguler di rumahnya dia, jadi interaksi langsung.

RA: Grunge besar di tahun 90an, dengan band-band seperti Pearl Jam, Nirvana. Tapi melemah setelah itu. Apa yang menyebabkan Grunge masih hidup di Indonesia?

RN: Saya pikir dengan generasi  yang waktu kita ABG mendengarkan itu dan terpengaruh dengan trend itu pasti akan kita putar lagu itu seumur hidup. Saya ada joke bahwa  musik apa yang kamu dengar waktu kamu SMA, musik itu yang kamu dengar seumur hidup. Bukan hanya di Indonesia, di negara mana pun ada nostalgia. Sweet memory.

Dan musik sama seperti fashion, mereka akan retro lagi, mereka akan berevolusi lagi. Seprti kita lihat flannel kan booming, sepatu boot seperti Doc Martin juga booming lagi.

Musik juga kayak gitu, kemaren sempat sound-sound retro 80an naik, sekarang saya pikir 90 naik lagi.

Itu juga dibuktikan banyaknya reuni band-band grunge, seperti Soundgarden, Alice in Chains tur lagi. Bukan hanya grunge, band-band dari 90an seperti Rage Against the Machine juga reuni lagi.

RA: Kritikus musik Simon Reynolds berkata pada tahun 1992 bahwa ‘Grunge adalah musik anak-anak muda yang merasa depresi dengan masa depan.’ Indonesia saat ini menghadapi masa depan yang cerah. Kenapa Indonesia perlu Grunge?

RN: Grunge itu kita pilih sound-nya. Medianya. Kita milih grunge karena itu yang paling besar mempengaruhi kita sejak SMA. Tapi kalau dari message, mungkin karena kebetulan saya di band sebagai penulis lirik dan dapat tugas, interest saya pribadi selain musisi saya juga konsultan di beberapa organisasi sosial di Bali, di Indonesia, yang berkaitan dengan isu ekologi.

Dan akhirnya interest untuk membuat lagu-lagu yang bertemakan ekologi dan sosial ini menjadi daya tarik saya dalam menulis topik tentang itu.

Dan dengan menggunakan musik grunge, yang saya sangat enjoy, sebagai media. Bisa dibilang Navicula adalah jurnalisme tentang sosial dan ekologi yang menggunakan musik sebagai media. Itu konsep Navicula.

Kalau dari lirik sih memang pada waktu itu tahun 90an Grunge identik dengan anti kemapanan, alienasi, tapi saya pikir band-bandnya juga sebenarnya range-nya luas. Mungkin karena Nirvana yang booming dengan lirik-liriknya kayak gitu, jadi identik dengan itu. Tapi sebenarnya kalau kita lihat, seperti Pearl Jam, seiring mereka tumbuh semakin tua, lirik-liriknya semakin tajam, semakin dalam. Eddie Veder juga banyak aktivismenya di bidang lingkungan, dan itu bisa dilihat dari lirik Pearl Jam era sekarang.

Jadi musiknya grunge, tapi liriknya bisa apa saja. Kebetulan kalau Navicula liriknya konservasi dan ekologi.

RA: Apa yang anda pelajari dari bermain musik Grunge tentang Indonesia?

RN: Saya cinta Indonesia, karena saya Warga Negara Indonesia, saya tinggal di Bali, kita tinggal di situ, kita tumbuh besar di situ. Perspektif kita sebagai warga negara Indonesia, warga Bali, ada banyak hal yang bsia kita lihat tapi kalau yang bersinggungan dengan musik yang Navicula mainkan, walaupun Indonesia bisa dibilang tumbuh berkembang, ekonomi juga tumbuh dan sedang bergairah, di satu sisi banyak seklali terjadi pengorbanan.

Pengorbanan ini, misalnya, adalah kerusakan ekologi yang banyak rusak demi pertumbuhan ekonomi.

Ini contoh aja: untuk mengejar ekspor minyak kelapa sawit, harus sekian banyak hutan di Sumatera, Kalimantan dan Papua harus dikorbankan. Untuk tambang yang bisa dijual hasilnya, sekian banyak hutan harus dikorbankan, sekian banyak konflik dengan masyarakat harus terjadi. Itu sacrifice yang dibuat negeri kita untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Sebagai warga negara, kita melihat angle sebagai victim di situ, dan itu harus disuarakan.

Saya pribadi lebih tertarik dengan perkembangan ekonomi dan kemakmuran yang lebih sustainable, yang lebih berpihjak pada jangka panjang. Karena kalau kita lihat sekarang banyak sekali pembangunan-pembangunan ini instant, karena kepentingan perusahaan.

Kita tidak bisa menyalahkan perusahaan juga, karena perusahan memang mencari profit. Tapi kita mau pro kepada yang bagaimana berpihak kepada masyarakat, bukan hanya take saja. Pertumbuhan ekonomi sekarang hanya take saja, tapi apa timbal baliknya, apa give-nya. Kita ingin mengingatkan, termasuk kepada diri sendiri, kita bukan hanya take-take saja, tapi kita harus juga give, dalam hal ini give kepada mother nature. Karena keseimbangan alam ini menjadi kacau hanya gara-gara kita mikirin take saja, engga pernah mikir give-nya.

RA: Dalam sejarah, grunge dan punk memiliki hubungan yang erat. Termasuk di Bali. Bagaimana Anda mendeskripsikan hubungan musik punk dan grunge di Bali dan di Indonesia?

RN: Kalau kita lihat dari sejarahnya, kalau dari buku grunge majalah Hai edisi khusus itu, dibilang bahwa grunge itu perpaduan antara metal yang kawin sama punk, anaknya grunge, jadi metalnya Black Sabbath, kawin sama punk-nya, sama Black Flag, jadi Grunge. Nirvana sendiri sangat anti dengan terminologi grunge, dan bilang mainin musik punk.

Kalau dari spirit, ideologi, cara Navicula bergerak juga sangat punk rock, sangat punk rock management, sangat DIY (Do-It-Yourself), sangat menggunakan cara-cara yang tidak populer uintuk bergerak. Sangat rebel-lah. Isu-isu yang kita contain, walaupun positive message, sebenarnya rebel dengan mayoritas opini orang. Dan saya pikir itu sangat punk rock. Saya sendiri juga besar di scene yang sabngat identik dengan ideology punk rock.

RA: Band-band Indonesia seperti apa yang mempengharuhi Navicula?

RN: Saya banyak tumbuh dengar lagu2 Iwan Fals, saya pikir punk rock banget. Saya juga dengar lagu God Bless -kita pernah kolabirasi dengan mereka, dua band main bareng. Kalau di Bali, kita dekat dengan scene punk dan metal yang besar di Bali. Kita satu manajemen dengan Superman is Dead, yang sangat punk rock, dan kita otomatis dari kedekatan ini ada influence.

Kalau dari band-band punk Amerika pada umunya, saya waktu SMA dengar banyak keluaran Epitaph Records, kayak Bad Religion, Pennnywise, Rancid, NOFX, jadi itu berpengaruh besar juga.

RA: Anda mungkin satusatunya band rock di dunia ini yang menerbitkan sabun mandi. Kenapa?

RN: Sebenarnya ini awalnya kita pernah bikin tur Borneo, kerja sama dengan Greenpeace naik motor masuk hutan sepanjang 2500 kilometer, 12 hari bekendaraan masuk rumah penduduk, dan menjadi saksi kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia.

Di sini kita melihat bagaimana kerusakan hutan yang diakibatkan oleh salah satu yang paling besar adalah ekspansi perkebunan kepala sawit pada waktu itu. Kita lihat, sebagai musisi, apa yang bisa kita lakukan nih?

Semua orang bisa berjuang di bidanngya, jadi kalau kita musisi, kita akan berjuang lewat musik aja. Akhirnya berkembang juga, kita buat lagu tentang itu, tapi kita musisi kan juga jualan merchandise. Akhirnya, karena saya sendiri suka sama film Fight Club, bukin sabun, kita keluarin sabun aja, karena sabun kebanyakan yang beredar di pasaran itu komoposisi utamanya kelapa sawit, dan banyak sekali mereka menggunakan nama-nama lain yang menyembunyikan kedok kelapa sawit itu.

Akhirnya kita lihat, bisa kok sabun dibuat dengan kelapa biasa, coconut oil, dan karena bidang kerja saya di Bali sebagai konsultan di bidang pertanian organik, sehingga saya dekat dengan komunitas  yang bikin produk-produk organik, dan saya punya teman-teman yang bikin sabun organik.

Saya discuss sama mereka, yuk, Navicula punya ide untuk bikin sabun organik yang bebas kelapa sawit, kita buat bisa ngga? Akhirnya kita kolaborasi, saya disain sendiri, kita jual kecilkecilan, ternyata dari generasi pertama bisa habis [dalam waktu] satu minggu. Sekarang sudah empat kali cetak, dan sekarang jadi serius, dari iseng. Dan ini kontribusi kita: sebagai musisi pun bisa berkontribusi dalam produk remeh temeh, seperti sabun bebas kelapa sawit.

Harapan kita ini bisa menjadi inspirasi untuk orang lain untuk berkontribusi di bidang yang mereka bisa.

RA: Bagaimana dengan Bali yang menghadapi juga kerusakan lingkungan, terutama di Bali bagian Selatan. Apa yang ingin Anda lihat di masa depan Bali?

RN: Karena Bali rumah Navicula, rumah saya pribadi, saya ingin Bali menjadi lingukungan yang nyaman, layak dan sehat untuk kita huni. Jadi saya sangat mendukung usaha-usaha baik oleh individu maupun organisasi yang ingin menciptakan lingkungan yang lebih baik dan lebih sehat dan makmur bagi masyarakat Bali.

Kita banyak terlibat dengan kegiatan-kegiatan WALHI, moratorium pembangunan Bali Selatan, kita pro, karena begitu kita lihat, seabgai orang awam, bahwa ini ada [perlu] sedikit rem untuk eksploitasi alam dan lahan di Bali.

RA: Anda baru memenangkan kompetisi internasional Rode Rocks, dan dikirim ke Amerika Serikat untuk melakukan rekaman di salah satu studio terbaik di Hollywood, Record Plant. Bisa Anda deskripsikan pengalaman tersebut?

Yang jelas sangat exciting ya, kita ikut kompetisi Rode Rocks yang diikuti oleh 500 band dari 43 negara, dan kita berhasil sebagai pemenang, dan terpilih untuk rekaman di Record Plant, bagi kita itu: wow! beruntung sekali.

Musisi mana yang tidak suka, pasti suka sekali bekerja di salah satu studio terbaik di Hollywood ya, sebagai satu pusat hiburan dunia.

Tapi kalau saya pribadi, waktu saya menggarap album baru Navicula, saya menjadikan produk-produk musik dengan Alain Johannes jadi referensi sound. Saya banyak kasih sound dari Queens of The Stone Age, Them Crooked Vultures, yang terlibat Alain Johannes di dalamnya.

Mimpi menjadi kenyataan, rasanya, ternyata begitu menang kompetisi ini, ternyata kita bekerja dengan Alain Johannes sebagai prosuder. Ternyata The Secret theory quantum itu bukan sekadar new age bull****, hahaha, jadi seperti buku Alchemist, Paulo Coelho: apa yang benar-benar kamu inginkan, universe bekerja untuk mendukung itu, tinggal seberapa kuat kita bermimpi. .

Apa strategi Anda untuk menghadapi audiens di Sydney Festival?

Kita tidak ada strategi macam-macam, kita mainkan musik yang kita bisa. Kita diundang main di Sydney Festival saja sudah senang, dan bisa jalan-jalan ke Sydney sudah senang, jadi kita main musik yang biasa kita mainin aja. Saya ingin tetap menjaga passion , kenikmatan bernain musik, jadi yang kita sajikan adalah kenikmatan kita bermain musik, tidak ada pressure macem-macem harus begini harus begitu.

Kita dikasih 1 jam lima belas menit, kita sudah siapkan 12-13 lagu untuk ini, kita enjoy, having fun aja. Saya pikir kalau kita having fun di panggung audience juga bisa merasakan having fun itu, kalau rame ya syukur, kalau engga ada yua ngga apa2.

Kita lebih tertarik pada kita memainkan musik ini: having fun. Esensi rock n roll itu adalah having fun. If it’s not fun, it’s not rock n roll !

Navicula berada di Sydney untuk pementasan di Sydney Festival, 10 Januari 2013.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.