Komunitas India di Indonesia: sejarah dan masa depan

Komunitas India di Indonesia: sejarah dan masa depan

Komunitas India di Indonesia: sejarah dan masa depan

Terbit 25 January 2013, 18:49 AEDT

Tanggal 26 Januari, setiap tahunnya di Australia diperingati  sebagai hari Australia, sebuah momen yang mengingatkan masyarakat Australia mengenai berbagai kebudayaan dan etnis baik mayoritas maupun minoritas. Pada hari yang sama, India juga merayakan Hari Republik. Maka Radio Australia hendak menyoroti keberadaan komunitas India, yang, meski minoritas, banyak mewarnai budaya di Indonesia.

India dikenal melalui lagu dan film yang banyak beredar di masyarakat. Namun sesungguhnya persentuhan budaya India dengan masyarakat di Indonesia sudah sangat lama. Imigran India sudah berhubungan dengan penduduk nusantara sejak era awal Masehi, dan bahkan dalam periode prasejarah. Melalui orang-orang India inilah agama Hindu dan Islam berkembang di Indonesia.

Tidak ada data pasti yang menyebutkan jumlah penduduk keturunan India yang tinggal di Indonesia saat ini, namun mereka adalah penduduk non Indonesia atau warga keturunan pendatang yang terkecil jumlahnya, kalau dibandingkan keturunan pendatang lainnya seperti Cina atau Arab di Indonesia.

Hingga tahun 1980-an, etnis India di Indonesia terutama terkonsentrasi di Sumatera Utara dan Jakarta.

Namun kini mereka sudah banyak menyebar di berbagai propinsi di Indonesia. Di Jakarta, salah satu kawasan yang banyak dihuni penduduk keturunan India adalah di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Saking banyaknya penduduk India yang bermukim disana, kawasan ini sekarang dikenal dengan sebutan little India; merujuk pada kawasan wisata dan pemukiman etnis India di Singapura.

Di kawasan Little India Sunter yang saya datangi beberapa waktu lalu, nuansa India terasa antara lain terlihat dari banyaknya kuil atau rumah ibadah umat hindu. Sedikitnya ada 3 kuil di sana yang ramai didatangi warga India untuk bersembahyang pada Jumat malam. Selain kuil juga ada sejumlah sekolah India dan restoran, toko atau warung yang menjual produk India dan Pakistan.

Di kawasan ini, tepatnya di kuil Jai Kalimaa Mandir, saya berjumpa dengan Denny Den Jompa. Warga India yang tinggal di kawasan Sunter ini mengaku leluhurnya berasal dari Kashmir.

Siang itu kami berbincang usai  Denny melakukan sembahyang. Ia bercerita tentang kakeknya yang memutuskan desersi atau lari dari tugasnya sebagai tentara Inggris dan menetap di Indonesia. Dia bercerita bagaimana kakeknya, yang memang tidak bisa pulang ke India, mengatakan mencintai Indonesia.

“Kalau dibilang enaknya tinggal di Indonesia atau India, dia engga pernah bilang, tapi dia bilang dia udah cinta Indonesia.”

Selain itu, Denny juga mengatakan bagaimana dia diajari untuk tidak menilai orang berdasarkan suku bangsa, dan bagaimana keluarganya beradaptasi dengan kebudayaan Indonesia.   

“Kita berusaha ikutin budaya Indonesia, dan kita juga seneng budaya Indonesia,” katanya.  

Kedatangan tanpa pertentangan

Sikap mempelajari budaya tersebut sesuai dengan pandangan pakar sejarah Jakarta dan Betawi, Alwi Shahab. Menurutnya, tidak seperti etnis pendatang lain di Indonesia yang sempat memicu pertentangan, kedatangan imigran India ke Indonesia berjalan mulus. Tidak pernah tercatat ada pertentangan di masyarakat mengenai kehadiran atau budaya India.

Imigran dari India sendiri, menurut Alwi Shahab, datang ke Indonesia dalam 5 fase: fase pertama dari masa kerajaan Tarumanegara (abad lima sampai sebelas), di mana banyak anggota kelas Brahmana yang datang ke nusantara. Fase kedua adalah fase Islam, dengan pendatang dari Gujarat. Setelah itu, dua konflik membentuk dua fase berikutnya: Perang Dunia Pertama yang menyebabkan banyak kuli dikirim ke daerah nusantara, dan konflik antara India dan Pakistan yang menyebabkan jutaan kematian. Pada saat itu, banyak orang keturunan India yang melarikan diri ke daerah Jakarta.

“Karena mereka melihat Jakarta itu cocok bagi mereka,” kata Alwi Shahab mengenai fase keempat tersebut.

Setelah itu, fase terakhir terjadi pada saat Perang Dunia Kedua, di mana banyak pedagang yang memasuki daerah kepulauan nusantara.

Kedatangan  orang India banyak memberi pengaruh di Indonesia.

Bukan hanya berperan membawa agama Hindu dan Islam ke tanah air, India juga banyak mewarnai budaya di Indonesia. Salah satunya adalah  lagu-lagu India yang dikenal sebagai akar dari musik dangdut di Indonesia.  Bahkan menurut Alwi Shahab, ondel-ondel yang merupakan patung boneka khas jakarta juga terinspirasi dari India.

“Budaya-budaya India kena pengaruh Hidnu, dan banyak kegiatan-kegiatan keagamaan juga dari Hindu, seperti nujuh bulanin..,dan juga kalau orang meninggal, [peringatan] tujuh hari, lima hari, itu pengaruh Hindu.”

“Perlu lebih berbaur”

Sementara itu tokoh Indonesia yang juga warga keturunan India, H.S  Dillon, mengatakan warga India  di Indonesia saat ini jumlahnya terus berkembang, bukan hanya warga keturunan India tapi juga warga asli India yang bekerja dan bermukim di Indonesia. sehingga  saat ini peran mereka di masyarakat juga sudah lebih beragam, tidak hanya berkutat pada perdagangan tekstil dan alat-alat olahraga; dua bidang perdagangan yang sejak lama menjadi andalan warga keturunan India.

Meski demikian, H.S Dillon menilai, untuk lebih banyak berperan, masyarakat India selain butuh dukungan juga perlu membuka diri mereka sendiri. Menurutnya, masih ada kesan eksklusif yang terlihat dari warga keturunan India di Indonesia.

“Banyak sekali ya saya liat, saya berulang kali menyatakan kepada [komunitas India di Jakarta], mereka juga sebenarnya kurang berbaur.”

Pernyataan tersebut berisi harapan H.S Dillon, yang menyatakan keinginannya agar pada masa depan, warga India di Indonesia bisa lebih berperan luas di masyarakat seperti halnya warga India di sejumlah negara lainnya.

“Kalau kita bandingkan, di Kanada, sudah ada orang-orang India yang menjadi walikota. Di Amerika sekarang, dua keturaunan India jadi Gubernur. Jangan bicara di Inggris. Orang Singapura menarik: di DPR mereka sengaja tempatkan orang-orang India. Sayang kan kalau kita bandingakan dengan tujuan republik. Tujuan pertama kan untuk merajut kebhinekaan.”

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.