Like Father Like Son

Like Father Like Son

Like Father Like Son

Terbit 19 December 2012, 12:44 AEST

Judul pengantar ini berarti 'air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua'.

Akan halnya Gunung Api Anak Karakatau tentu kita - dan umat manusia - tidak mengharapkannya akan meniru induknya dan meletus dalam tahun 1883.

Sebuah media di Indonesia menggambarkan Anak Karakatau sebagai 'sesuatu yang indah, namun berbahaya' - mungkin semisal laba-laba yang menggoda dan membujuk bakal mangsanya untuk menghampiri sarangnya.

Meski belakangan ini seakan ada 'kelatahan' di kalangan gunung-gunung api di Indonesia yang meletus seolah silih berganti, atau bahkan selang tidak lama sesudah yang satu memuntahkan lahar atau abu atau benda-benda alam lainnya, namun, syukur, Anak Karakatau masih tetap 'adem ayem'.

Berbagai prakiraan selama ini memang menyebut bahwa meski Anak Karakatau terus bertumbuh namun belum ada gelagat atau gejala bahwa suatu letusan besar akan terjadi.

Dr. Endang Widiastuti, pengamat lingkungan, dosen jurusan biologi FMIPA Universitas Lampung, yang juga adalah penyandang gelar PhD. dari Universitas Kentucky di Amerika Serikat, dalam wawancara dengan Radio Australia Rabu 19-12-12 mengakui keindahan dan sekaligus bahaya yang terkandung pada Anak Karakatau.
 

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.