Malaria pembunuh nomor satu di Papua

Malaria pembunuh nomor satu di Papua

Malaria pembunuh nomor satu di Papua

Diperbaharui 25 April 2013, 11:59 AEST

Tanggal 25 April adalah Hari Malaria Internasional. Radio Australia melihat keadaan di wilayah Papua, yang hingga kini masih tercatat sebagai wilayah endemik malaria terbesar di Indonesia. Tahun 2012 lalu tercatat ada lebih dari 431 ribu warga yang menderita malaria dengan rasio kejadian 96 kasus per 1000 kelahiran. Jumlah kasus yang tinggi ini diperparah dengan tingkat kesadaran yang rendah.

Tingginya kasus malaria menyebabkan penderita malaria umum dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan. Sue Treiner Elizabeth, suster relawan asal Irlandia dari Yayasan Sosial untuk Masyarakat Terpencil yang bertugas di Kabupaten Yahukimo, mengatakan siapa pun bisa terkena penyakit ini.

“Pasti di puskesmas tiap hari ada kasus  malaria. Yang berobat itu anak-anak, ibu hamil, orang dewasa tidak ada kecuali.  Mudah sekali kena, anak-anak terkena di sekolah, mahasiswa di tempat kuliah mereka. Itu hal biasa di Papua. “ ceritanya.                                                                    

Meski tidak asing, namun kesadaran warga Papua untuk segera berobat masih rendah. Hal ini tidak  lepas dari gejala Malaria yang tidak khas. Bermula dari keluhan kesehatan sederhana saja seperti demam, pusing  dan mual-mual, banyak warga yang berobat ketika sudah menunjukkan gejala parah.

“Kesadaran mereka kurang, banyak mereka baru berobat kalau sudah tidak sadar diri, limpa sudah bengkak. Sering kita lihat orang sudah meninggal tiba-tiba setelah kena malaria,” ujarnya Suster Elizabeth.

Selain rendahnya kesadaran, akses pengobatan dan ketersediaan obat-obatan turut memicu tingginya kasus malaria di Papua.

“Kami di sini masih daerah yang belum punya banyak hubungan jalan baik dengan kabupaten lain. Di sini kemana-mana masih harus pakai pesawat. Sementara kalo obat mesti ada stok, tapi kebutuhannya tetap tinggi, karena mengobati malaria butuh banyak tambahan obat.”

Upaya penyuluhan pencegahan Malaria, meski terus dilakukan, belum menunjukkan banyak perubahan. Malaria hingga kini masih menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di Papua. Selain itu malaria juga menyebabkan tingkat produktifitas warga menjadi sangat rendah.

Pemekaran wilayah dan perubahan iklim picu lonjakan kasus

Malaria dipicu oleh parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Nyamuk ini diketahui memiliki banyak spesies yang ditaksir mencapai 400 spesies di dunia. Indonesia sendiri memiliki sedikitnya  20 jenis anopheles, di mana 9 jenis di antaranya merupakan faktor penyebab malaria. 

Kondisi alam Papua yang masih luas tutupan hutannya, serta iklim basah, menjadikan Papua sebagai lahan pengembangbiakan yang sangat ideal bagi nyamuk Anopheles dan parasit malaria.

Dan kini dengan adanya pemekaran wilayah, banyak warga Papua yang dulunya tinggal di dataran tinggi pindah bermukim ke kota di dataran rendah dan ikut terjangkit malaria karena gigitan nyamuk Anopheles.

Selain itu, pola perubahan iklim juga ikut memicu penyebaran nyamuk malaria. Sejumlah ahli menemukan nyamuk anopheles, yang biasanya hanya ditemukan di dataran rendah, sekarang bisa ditemukan di daerah dataran tinggi atau pegunungan yang tingginya diatas 2000 meter dari permukaan laut seperti yang ditemukan di daerah Jayawijaya.

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Papua, Drg. Joseph Rinta, mengatakan Papua menghadapi tantangan besar dalam upaya eliminasi Malaria. Untuk itu pihaknya membutuhkan bantuan dan dukungan semua kalangan untuk bisa  mencapai target eliminasi malaria yang ditetapkan pemerintah tahun 2030 mendatang.

"Kita memang masih memerlukan dukungan obat dari pusat. Kita kemarin minta 100 ribu kotak, baru dikirim 10 ribu kotak. Tahun lalu, kita minta bantuan provinsi-provinsi lain yang memiliki kelebihan obat malaria, kita tarik ke provinsi [di Papua], biaya kirim kita tanggung," jelasnya. 

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.