Membangun pesantren, menabur persahabatan Australia-Indonesia

Membangun pesantren, menabur persahabatan Australia-Indonesia

Membangun pesantren, menabur persahabatan Australia-Indonesia

Diperbaharui 3 December 2012, 9:17 AEDT

Madrasah dan Pondok Pesantren saat ini memegang peran strategis dalam pembangunan khususnya di bidang pendidikan. Keberadaannya yang menjangkau hingga ke pelosok pemukiman memungkinkan warga untuk menyekolahkan anaknya guna mendapatkan pendidikan. Kini, ratusan pesantren telah dibangun dengan dana bantuan dari Australia.

Peran strategis pesantren dalam menyediakan pendidikan seringkali menghadapi masalah ketidaksiapan infrastruktur maupun SDM, yang membuat kualitas madrasah dan pondok pesantren banyak yang tidak memenuhi standard.

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Tarbiyatul Huda di desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Jawa Barat. Ketika didirikan pada tahun 1992, Pondok Pesantren yang terletak di kaki Gunung Pangrango di selatan kota Bogor ini kondisinya cukup memprihatinkan. Tiga ruang kelas yang dimiliki sekolah ini hanya terbuat dari triplek dan berlantaikan tanah. Keterbatasan infrastruktur ini juga membuat sekolah tersebut hanya mampu menyelenggarakan jenjang pendidikan Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Kondisi itu berubah tahun 2009, ketika sekolah itu mendapat  bantuan dana hibah dari Pemerintah Australia lewat program bantuan pendidikan dari lembaga donor Australia AusAID sebesar lebih dari 1 miliar rupiah. Dengan dana itu Ponpes Tarbiyatul Huda mendapat tambahan 6 ruangan kelas dan sejumlah sarana penunjang seperti ruang laboratorium dan ruang serba guna.

“Kami hanya menyediakan tanah, semua keperluan pembangunan sekolah ditanggung dari dana hibah itu. Sampai gambar dan layout sekolah juga AusAID yang sediakan.” tutur Kepala Sekolah Ponpes Tarbiyatul Huda, Ridwansyah.

Menurut Ridwansyah, bangunan sekolah dan ruangan kelas yang permanen membuat anak didiknya lebih bersemangat dan termotivasi. suasana belajar juga menjadi lebih baik. Namun perubahan yang sangat  mendasar dan terpenting menurutnya adalah berhasil ditekannya angka putus sekolah anak-anak di Desa Pancawati. Karena dengan gedung sekolah yang baru, Ponpes Tarbiyatul Huda mampu menyelenggarakan jenjang pendidikan Mts dan MA.

“Sebelumnya anak-anak di desa ini banyak yang putus sekolah. Mereka biasanya memilih ikut orang tua mereka bertani, sementara anak perempuan langsung menikah.” ungkap Ridwansyah.

 

Bantuan pendidikan AUSAID   

Pondok pesantren Tarbiyatul Huda hanyalah satu dari rencana ribuan sekolah dan madrasah yang dibangun oleh program bantuan pendidikan AusAID. Sejauh ini ada sekitar 504 madrasah di seluruh Indonesia. 108 madrasah  di antaranya ada di Jawa Barat.

Program bantuan AusAID di sektor pendidikan ini bertujuan untuk membantu Indonesia mencapai program wajib belajar 9 tahun pada 2015. Untuk itu Australia memfokuskan bantuannya pada pembangunan sekolah-sekolah lanjutan. Berdasarkan data yang ada 96% anak-anak Indonesia saat ini bersekolah di SD, namun hanya 75% saja yang melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan.

Komitmen bantuan Australia di sektor pendidikan merupakan yang terbesar yang diterima Indonesia dengan total komitmen bantuan mencapai 500 juta dollar dari tahun 2011 hingga 2016.  Menurut  Kepala AusAID Indonesia Jacqui de Lacy, dalam situs resmi AusAID, bantuan di sektor pendidikan merupakan program prioritas dari AusAID. Lewat dana tersebut Australia berkomitmen membangun lebih dari 2000 sekolah terutama sekolah Islam Madrasah dan Pondok Pesantren.

Pembangunan sekolah-sekolah islam ini menurutnya penting karena sekolah islam banyak  menyasar kelompok masyarakat miskin terutama anak-anak perempuan. Selain membangun sekolah-sekolah islam, program ini juga menyasar peningkatan kualitas pendidikan di sekolah islam lewat bantuan peningkatan akreditasi sekolah dan pelatihan bagi manajemen dan kepala sekolah di sekolah-sekolah islam.

Cendekiawan muslim, Jamhari Ma’ruf, yang juga Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan program bantuan pembangunan sekolah-sekolah islam yang dilakukan Australia sangat bermanfaat karena menjawab 5 permasalahan mendasar yang dialami mayoritas sekolah islam di Indonesia: infrastruktur yang buruk, SDM yang lemah, manajemen sekolah yang tradisional, wawasan yang sempit dan keterbatasan finansial.

Kerjasama ini, menurut Jamhari Ma’ruf, juga berhasil mengubah citra dan persepsi masyarakat Indonesia menjadi lebih positif terhadap Australia. Mereka menilai Australia sebagai negara tetangga yang bersahabat dan mendukung.

“Dulu orientasi masyarakat pesantren itu terbatas pada Timur Tengah, kalau lulus juga cita-citanya melanjutkan rata-rata ke Al-Azhar. Tapi sekarang wawasan mereka lebih luas, kalau mereka juga bisa melanjutkan pendidikan ke Australia.” tuturnya.

Bridge program

Selain membangun gedung sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan disekolah-sekolah islam, program bantuan pendidikan Australia juga diwujudkan dalam bentuk kerjasama kemitraan antar sekolah dan pengajar dalam bentuk program  BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement).

Program ini adalah program peningkatan pengetahuan dan saling pengertian antara Australia dan Indonesia melalui kemitraan antar sekolah yang menghubungkan para siswa di kedua negara melalui penggunaan teknologi internet, terutama Web 2.0. Lewat Internet para siswa dari sekolah-sekolah bisa saling berkomunikasi dan berbagi serta membangun persahabatan.

Program BRIDGE ini merupakan inisiatif Pemerintah Australia yang dimulai sejak 2008 dan sampa saat ini sudah berjalan di 10 provinsi: Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Salah satu sekolah yang ikut dalam Program BRIDGE ini adalah SMA Muhammadiyah I Denpasar yang merupakan salah satu sekolah pertama yang berpartisipasi dalam program ini.

Kepala Sekolah SMA tersebut, Hamid, mengatakan dalam program ini sekolahnya bermitra dengan Sekolah Southern Christian College di Kota Kingston, Tasmania. Kemitraan antar sekolah ini membawa banyak sisi positif bagi anak didiknya. Seperti lingkungan sekolah yang lebih bersih, toleransi dan  suasana belajar yang lebih inovatif, nyaman dan menyenangkan.  Semua itu diadopsi dari sekolah mitra mereka lewat berbagai kerjasama dan komunikasi yang terbangun selama ini.

Sekolah ini juga banyak mengadopsi metode pembelajaran yang interaktif yang diterapkan dalam sistem pendidikan di Australia. Metode pembelajaran ini mampu mendongkrak prestasi SMA Muhammadiyah I tersebut.

Hamid juga mengakui program ini turut berperan meningkatkan kepercayaan diri anak didik di Sekolah SMU Muhammadiyah. Dengan komunikasi yang intens dengan sahabat mereka di sekolah di Australia baik lewat internet maupun program pertukaran siswa/pendidik yang langsung, kemampuan berbahasa Inggris murid-murid SMU Muhammadiyah juga meningkat secara signifikan.

Kemitraan ini juga membuka wawasan dan toleransi mereka.

“Dulu kita tertutup; sebagai sekolah islam kami biasanya hanya berhubungan dengan sekolah islam saja. Tapi sekarang kita jauh lebih terbuka. Wawasan kita juga bertambah setelah bersedia membuka diri dan mempelajari budaya-budaya orang lain terutama Australia.”

Namun rasa persaudaraan antar warga Indonesia – Australia yang akrab dan hangatlah yang menurut Hamid menjadi kesan terdalam yang dirasakan dari program BRIDGE ini.

“Kita seperti punya saudara jauh di Australia. Saya sebagai Kepala Sekolah, pendidik maupun murid murid disini bisa bercerita dan berkonsultasi apa saja dengan teman-teman di sekolah Southern Christian  College.” ungkapnya.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.