Hal ini disampaikan Ketua gabungan industry pariwisata Bali (GIPI) Ida Bagus Ngurah Wijaya. Menurutnya, peredaran arak Bali yang bercampur dengan metanol sudah sangat meresahkan. Tidak hanya para turis, warga setempat juga sudah banyak menjadi korban. Arak bali yang dicampur metanol ini tidak memiliki ijin dan, menurutnya, banyak beredar di Bali bagian timur.
Ida Bagus Ngurah Wijaya mengatakan lembaganya sudah berkali-kali meminta pemerintah daerah dan instansi berwenang untuk memperketat pengawasan peredaran minuman arak di Bali. Namun menurutnya hingga kini pengawasan itu masih sangat lemah, sehingga kasus keracunan arak Bali yang mengandung metanol terus terjadi.
"Dulu pernah terjadi penertiban-penertiban pembuatan minuman yang tidak mempunyai ijin. Sekarang mulai lagi sepertinya pembuatan-pembuatan minuman yang tidak dikontrol, mungkin, dengan baik oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sehingga terjadilah korban. Setiap produksi harus mendapatkan ijin edar."
Menurutnya, pengawasan harus diadakan setiap saat.
"Kita dorong melalui BPOM untuk melakukan penertiban yang betul-betul dilakukan, bukan saat-saat tertentu saja. Setiap begitu [makanan dan minuman] diproduksi dan dilempar ke masyarakat, harus mendapatkan izin," katanya.
Seorang remaja di Australia Barat, Liam Davies (19), sakit dan meninggal di Rumah Sakit Perth, setelah mengkonsumsi arak yang mengandung metanol di Indonesia. Ia menderita sakit setelah merayakan malam Tahun Baru bersama teman-temannya di Lombok. Ia dipulangkan ke kota Perth beberapa hari lalu atas rekomendasi dokter namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Atas kejadian ini Ikatan Dokter Australia mengeluarkan imbauan agar warga Australia ketika bepergian tidak mengkonsumsi produk alkohol buatan lokal seperti arak yang tidak terjamin keamanannya.
Ikatan Dokter Australia juga menyuarakan keprihatinan mereka tentang meningkatnya kasus keracunan metanol di Indonesia.
Liam Davies bukan warga Australia pertama yang tewas gara-gara minuman mengandung metanol. Tahun lalu, atlet Rugby dari kota Perth, Michael Denton, meninggal di Bali. Hasil otopsinya menunjukan penyebab kematiannya adalah keracunan metanol.
Pertengahan Agustus lalu, seorang turis asal Amerika juga mengalami kerusakan permanen pada penglihatannya alias buta akibat menenggak arak oplosan. Sementara warga setempat yang menjadi korban minuman beracun ini dilaporkan sangat banyak.
Oleh karena itu Ikatan Dokter Australia mendesak pemerintah dan polisi federal Australia untuk campur tangan guna memastikan Pemerintah Indonesia bertindak lebih banyak untuk melarang minuman arak yang dicampur metanol.
David Mountain, dari Ikatan Dokter Australia, kepada ABC mengatakan otoritas Indonesia harus mempolisikan tempat hiburan yang menjual minuman yang tidak memiliki ijin edar.
Otoritas Bali didesak untuk merespon serius desakan Australia ini. Menurut Ida Bagus Ngurah Wijaya, jika tidak direspon secara serius dapat merusak citra pariwisata Bali. Terlebih lagi, warga Australia merupakan turis terbanyak di Bali.
"Begitu orang luar dengar bahwa ada orang meninggal disebabkan keracunan minuman atau makanan, itu jelek semua bagi pencitraan Bali. Citra bali bagi turis lokal maupun asing."
Metanol adalah bentuk alkohol paling sederhana yang biasa digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan aditif bagi etanol industri. Bila dikonsumsi, metanol bisa menimbulkan kebutaan, koma, bahkan meninggal dunia.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas di Bali belum bisa dihubungi untuk dimintai tanggapan atas desakan ini.