Menunggu mati di rumah singgah waria: nasib transgender lansia di Jakarta

Menunggu mati di rumah singgah waria: nasib transgender lansia di Jakarta

Menunggu mati di rumah singgah waria: nasib transgender lansia di Jakarta

Diperbaharui 11 January 2013, 19:07 AEST

“Aku diusir dari rumah hanya dengan pakaian yang menempel di badan saja,” kenang Yopie sambil terisak, seorang transgender atau waria yang kini sudah berumur 69 tahun. Dia masih ingat betul peristiwa pada pertengahan 1961 saat dibuang keluarganya dan mengganti namanya menjadi Yoti.

Orang tua dan enam saudara kandungnya tidak bisa menerima Yoti yang bertingkah laku seperti perempuan.

Peristiwa pengusiran itu juga karena Yoti ketahuan ‘tidur’ satu kamar dengan lelaki, tamu ayahnya yang berprofesi sebagai aparat militer.

Sejak keluar dari rumah, Yoti mulai menjual diri di sejumlah ruas jalanan di Jakarta. Dia menyebutnya dengan ‘nyebong’. Istilah akrab di kalangan transgender yang kerap menjual layanan seks untuk melayani lelaki.

“Waktu itu saya sempat beroperasi di sekitaran Sarinah (jl. Thamrin), Grogol dan kadang suka bareng sama tukang becak gitu,” ungkap Yoti.

Puas beberapa tahun di Jakarta, Yoti merantau dengan kapal laut ke Jayapura. Di sana, dia bekerja dengan memanfaatkan keahlian memasaknya.

“Tapi saya bukan cuma dapat uang dari memasak Mas, saya sempat dipelihara gitu sama pejabat, mungkin karena saya masih muda dan cantik,” katanya.

Baru pada pertengahan 1975, atas bantuan seorang pamannya, Yoti nekat bersama seorang teman pindah ke Singapura dan Malaysia.

Niat mencari kerja serius pun kandas dan Yoti kembali menangguk uang dari pekerjaan layanan seksual. Tak jauh beda dengan di Jayapura, dia sempat menjadi peliharaan pejabat Kepolisian di Malaysia.

Uang yang diperolehnya dari sepertiga hidup 23 tahun mengembara di Singapura dan Malaysia sebagian besar tak berbekas. Sisanya berhasil dia berikan buat biaya sekolah adiknya dan beberapa kali suntik untuk membentuk payudara.

Yoti baru kembali ke Jakarta pada pertengahan 1998, persis saat virus reformasi mulai bergulir dan demonstrasi di Indonesia sedang marak.

Lagi lagi Yoti terjebak mencari uang dengan cara ‘nyebong.’ Paling hanya sesekali saja dia mendapat pekerjaan serius disewa orang untuk memasak.

Yoti mesti bersaing dengan teman sesama transgender yang lebih muda dan menarik.

“Rasanya ingin berhenti mas, tapi yah namanya juga waria susah dapat kerja dan diterima masyarakat, apalagi sudah setua aku.” Keluh Yoti.

Sekarang Yoti menjadi penghuni tetap di rumah singgah khusus untuk waria yang berumur lanjut di kawasan Cinere, Depok. Kawasan permukiman kampung yang menjadi perbatasan tiga wilayah: Depok, Bogor dan Tangerang.

Rumah singgah untuk lansia yang berdiri sejak 2010 ini dimiliki Yulianus Rettoblaut, 51 tahun, yang juga seorang transgender. Dia Ketua Forum Komunikasi Waria Se-Indonesia.

Dikenal dengan panggilan ‘Mami Yuli’, Yulianus sering menghiasi sejumlah media terbitan Jakarta sejak mendaftarkan diri sebagai Komisioner Komnas HAM dua kali pada 2007 dan 2012 lalu. Dan tidak pernah terpilih, cuma behenti pada uji rekam jejak saja.

Mengabdi karena masyarakat 'tidak peduli'

Pilihan hidup di rumah singgah diambil karena memang Yoti tidak bisa berbuat banyak lagi mencari penghasilan.

Di rumah singgah, dia membantu Yulianus mengurus para kaum transgender lansia yang datang dan pergi.

Dalam sepekan, kata Yoti ada 4 sampai 5 orang yang datang. Rumah singgah itu memang tak bisa menampung orang terlalu banyak.

Hanya ada dua kamar, satu ruang kerja dan satu lagi ruang berukuran dua setengah kali 4 meter. Ruang terakhir inilah yang digunakan untuk menampung mereka yang singgah. Kalau sedang penuh, sebagian bergeletakan di ruang tengah.

Tak sedikit pula dari mereka yang datang dalam kondisi tak punya uang dan sakit, bahkan yang terpapar HIV AIDS.

“Kalau ada yang mati terus keluarga ga mau tanggung jawab, kami juga yang urus, terutama Mami Yuli, dia bawa ke rumah sakit dan kita mandiin terus dikuburin,” cerita Yoti.

Yoti kebanyakan membantu memasak dan mengurus mereka yang sakit.

Dia cukup senang bisa mengabdi dan melayani di rumah singgah khusus untuk waria lansia tanpa bayaran, karena menurutnya masyarakat tidak ada yang peduli dengan transgender selain dari kaum mereka sendiri.

Sementara Yulianus Rettoblaut, yang disebut sangat gigih oleh Yoti, punya cita cita sendiri buat rumah singgah yang dia bangun dari jeri payahnya mengelola salon.

“Saya ingin rumah itu nanti jadi panti Jompo untuk waria mas,” tegas Yulianus yang saya temui di salonnya (04/13) di kawasan Jakarta Selatan.

Yulianus berencana untuk menggelar malam amal untuk waria buat menambah pundi-pundinya supaya bisa membangun rumah yang lebih layak untuk waria lansia.

Mimpi Yulianus bukan hal kecil. Dari 8000 waria yang tersebar di Jakarta, sepuluh persennya sudah lanjut usia dan bekerja tak tentu. Belum lagi jika dihitung dari presentase penduduk di Indonesia. Data terakhir pada 2006, ada 7 juta transgender di Indonesia.

“Banyak lembaga atau NGO itu lebih banyak pemberdayaan itu diberikan pada waria yang muda dan ODHA, tapi tidak untuk lansia,” kata Yulianus.

Untuk itulah Yulianus yang juga sudah beranjak tua memulai pekerjaan awal bergerak membangun rumah singgah.

Selain rintangan soal dana, juga masih ada beberapa komunitas bahkan lingkungan yang kurang mendukung dibangunnya rumah singgah untuk waria lansia. Tapi kini, untuk sementara, khusus untuk lingkungan sekitar di rumah singgah sudah mulai menerima mereka.

Apa yang menjadi cita-cita Yulianus juga menjadi harapan Yoti.

“Banyak orang bilang cita-cita saya tidak gampang, tapi kalau ini bukan karena Tuhan mungkin tidak bisa,” harap Yulianus.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.