Pemberdayaan ekonomi korban konflik, solusi lebih baik atasi kekerasan Poso

Pemberdayaan ekonomi korban konflik, solusi lebih baik atasi kekerasan Poso

Pemberdayaan ekonomi korban konflik, solusi lebih baik atasi kekerasan Poso

Diperbaharui 17 May 2013, 16:42 AEST

Kekerasan di Poso akan lebih baik diatasi dengan langkah-langkah pemberdayaan kaum muda dari segi ekonomi, demikian dikemukakan oleh pakar antropologi Sulawesi Tengah.

Masalah terorisme kembali disoroti belakangan ini menyusul operasi yang dilakukan hampir serentak oleh Densus 88 di beberapa kota Indonesia minggu lalu. Operasi itu mengakibatkan tewasnya dan ditangkapnya sejumlah tersangka teroris, yang sebagian dikait-kaitkan dengan pelatihan di Poso.

Pihak POLRI Desember tahun lalu sudah mengumumkan akan memusatkan perhatian pada Poso, Sulawesi tengah, untuk memerangi terorisme di dalam negeri.

Wilayah di Sulawesi Tengah itu akhir dasawarsa 1990an sampai pertengahan dasawarsa 2000-an diliputi konflik sengit antar golongan agama yang merenggut sekitar 2000 korban jiwa. Operasi yang dilancarkan pihak kepolisian di tahun 2001 untuk membendung kekerasan di Poso, ternyata tidak efektif, mengakibatkan jatuhnya lagi korban jiwa dan malah menebarkan benih kebencian masyarakat terhadap polisi.

Berbeda dengan operasi yang dilancarkan di tahun 2001 di Poso, kali ini pihak POLRI mengatakan akan menempuh cara yang berbeda. Sekarang ini katanya bukan cuma melancarkan operasi penegakan hukum, melainkan juga berusaha merebut hati rakyat.

Prof Dr Sulaeman Mamar, guru besar Antropologi Universitas Tudalako-Palu, mengatakan kepada Radio Australia, cara untuk membendung kekerasan dan mengambil hati rakyat adalah dengan memberdayakan kaum muda di Poso dari segi ekonomi.

“Ada lebih dari seribu pemuda Poso korban konflik dulu yang meninggal orangtuanya, keluarganya, sekarang menjadi pemuda yang tidak punya pekerjaan.”

Prof Sulaeman berpendapat, kalau mau mengambil hati orang Poso untuk tujuan membendung kekerasan, bukan tokoh agama atau tokoh masyarakat yang perlu diambil hatinya, karena “mereka itu tidak akan didengar”.

“Yang perlu diambil hatinya adalah pemuda-pemuda yang korban konflik itu, karena merekalah yang masih ada dendamnya .. dendam kepada pemerintah karena dianggap tidak adil menangani persoalan.”

Kata Prof Sulaeman, kekerasan yang pada mulanya konflik antar golongan agama telah berubah menjadi ‘konflik vertikal’ antara masyarakat dan pemerintah atau polisi yang dipandang tidak netral.

Pakar antropologi itu menyayangkan bahwa Poso sekarang disebut-sebut sebagai salah satu pusat terorisme di Indonesia, yang menurutnya terlalu dilebih-lebihkan. Tapi ia mengakui bahwa ada sebagian masyarakat di Poso yang jengkel terhadap pihak kepolisian, bahkan ada kelompok yang menuturkan kepadanya akan perang melawan pihak kepolisian.

“Bukan (perang) dengan TNI, hanya dengan pihak kepolisian. Karena ada banyak perilaku kepolisian yang menurut mereka itu tidak benar, misalnya suka salah tangkap, menyiksa, memperkosa anak gadis mereka dan macam-macam.”

Kata Prof Sulaeman Mamar, ia belum lama ini menyampaikan kepada Menkopolkam dalam suatu pertemuan di Jakarta, bahwa kalau ingin menghentikan konflik di Indonesia, terutama di Poso, yang perlu dilakukan adalah pemberdayaan pemuda-pemuda korban konflik Poso akhir dasawarsa 1990-an sampai 2000-an itu agar bisa produktif secara ekonomi.

Menurut Prof Sulaeman, untuk itu hendaknya “dilakukan identifikasi semua korban konflik, lalu dikelompokkan, digabungkan semua suku maupun golongan agama, dilatih secara professional dalam usaha produktif, pantau terus. Diharapkan mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri, dengan diberi modal uang dan ketrampilan.”

Kalau tidak menganggur dan tidak susah hidupnya, diharapkan mereka itu tidak akan mudah terpancing untuk melakukan kekerasan.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.