Perjalanan cinta dan hidup Soepiah: biru Ben-Hur, agresi militer, dan senam jantung

Perjalanan cinta dan hidup Soepiah: biru Ben-Hur, agresi militer, dan senam jantung

Perjalanan cinta dan hidup Soepiah: biru Ben-Hur, agresi militer, dan senam jantung

Diperbaharui 14 December 2012, 17:51 AEDT

Sofa yang tadi saya duduki ternyata adalah bekas kursi pengantin. Rupanya, perempuan berusia 71 tahun di hadapan saya juga pernah bekerja sebagai perias pengantin, selain operator telepon, maskot senam, dan terpaksa mengungsi ketika agresi militer Belanda pada tahun 1948. Namanya Soepiah, ibu teman baik saya di kantor.

Kami bertemu di rumah salah satu anaknya di kompleks Angkatan Laut Kodamar, Jakarta Utara. Di dekat situ saya menemukan taman bermain anak-anak dan kandang merpati.

Tahun 1960, Bu Piah bekerja di PTT (Pos, Telegram, dan Telepon) sebagai operator interlokal. Kakak sepupunya, Warni, bekerja di Angkatan Laut. Warni sering mengajak Bu Piah untuk menumpang truk jemputan pagi pegawai Angkatan Laut, di mana ia bisa turun di Lapangan Banteng, untuk kemudian naik angkutan umum ke kantor PTT di Merdeka Utara. Di truk ini lah ia bertemu Soedarto.

Semua berjalan seperti biasa hingga suatu hari sang Bulik (Bibi dari Bu Piah) tiba-tiba menunjukkan tanda jadi pernikahan. Bu Piah kaget. Ternyata sang Bulik diam-diam mendatangi Darto di rumah kontrakannya dan membicarakan pernikahan. Darto memang menanyakan soal Bu Piah pada Warni.

“Kamu kalau sudah senang dengan Piah kita langsung ke orangtuamu saja,” begitu kata sang Bulik kepada Darto.

Bu Piah mencoba menolak meskipun sebenarnya tertarik juga dengan Darto semenjak pertama bertemu. Ia masih teringat pada Karno, kawan masa kecilnya yang kelak dikirim ke Kongo dalam salah satu Kontingen Garuda.

Karno pernah mencari-carinya di Jakarta namun terhenti di depan pintu. Sang Bulik melarang mereka bertemu.

Sang Bulik pun melapor ke Budhe (Kakak dari Ibu Bu Piah) yang mengurus Bu Piah semenjak yatim-piatu. Pernikahan dipersiapkan. Sang Bulik mengancam bunuh diri jika Bu Piah tak mau pulang ke Pacitan untuk menikah. Dengan sangka baik bahwa barangkali ini adalah jalan yang diberikan Tuhan, Bu Piah memilih untuk ikhlas. Ia diberi izin untuk cuti selama seminggu oleh atasannya, Ibu Loupatty; seorang Belanda yang menikah dengan orang Ambon.

Pada tanggal 23 Juli 1961, Bu Piah dan Darto menikah.

Ketika saya tanyakan, anaknya menjawab bahwa dia juga tak pernah tahu mengenai kisah perjodohan tersebut.

 

Agresi militer dan pengungsian

Usia Bu Piah 17 tahun ketika Ibunya meninggal. Ia baru saja lulus SMP ketika itu. Berbeda dari hari ini, ketika Bu Piah kecil, sekolah sering terhenti karena perang. Orang-orang sibuk sembunyi ke hutan dan mencari keselamatan.

Saya pun bertanya apa yang Bu Piah paling ingat dari masa kecilnya. Ia menjawab: masa pengungsian saat agresi militer Belanda kedua pada tahun 1948. Usianya enam atau tujuh tahun saat itu. Orang-orang diungsikan karena perang dan keluarga Bu Piah tercerai-berai.

Bapak dari Bu Piah meninggal karena disiksa oleh tentara Belanda. Kata orang-orang, lelaki paruh baya itu dibunuh karena tangannya yang kapalan, tangan khas pejuang yang selalu memegang senjata. Kapalan itu sesungguhnya ia dapatkan dari pekerjaan sebagai tukang jahit.

Di pengungsian, penyakit kulit menular, makanan sukar didapat, dan bagi Bu Piah tak ada sedikit pun keceriaan yang bisa dikenang.

Kenangan indah datang bersama masa SMP. Ketika itu Bu Piah sering pergi ke pantai bersama kawan-kawannya. Pantai yang berjarak kira-kira tujuh kilometer dari rumah ditempuh dengan sepeda. Pada masa itu Bu Piah juga beberapa kali menerima surat cinta yang berisi ajakan ke pantai. Takut dimarahi kakaknya, Bu Piah memasukkan surat cinta tersebut ke dalam tungku api. Dan ia hanya mau dibonceng oleh perempuan.

Setelah menikah, pada tahun 1965 Bu Piah berhenti bekerja sebagai operator PTT. Alasannya adalah seringnya terjadi demonstrasi oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia, sementara ia sudah punya anak yang berumur 4 bulan. Ketika itu Darto juga sering mengikuti konsinyering dan tak boleh pulang.

Suatu hari Darto pulang membawa televisi bekas yang dibeli langsung dari pelaut di pelabuhan. Televisi itu ia bisa beli murah karena sisa barang angkutan yang belum laku. Berita adalah hiburan paling banyak di masa tersebut. Itulah televisi pertama Bu Piah.

Televisi 20 inci tersebut dijual lagi pada 1967. Hasil penjualannya, 47.000 rupiah, bisa dipakai untuk membeli tanah seluas 170 meter persegi di Kampung Ambon. Bu Piah sendiri heran bagaimana mungkin satu televisi bisa digunakan untuk membeli tanah.

Obrolan tentang televisi membawa kami untuk membicarakan film. Bu Piah masih ingat kali pertama ia diajak suaminya menonton di bioskop. Pada suatu sore, mereka naik becak ke bioskop Megaria untuk menonton “Ben-Hur”. Ibu Piah mengaku tak menikmati cerita dan lebih sibuk terpukau oleh gambar dan warna-warna. “Maklum, orang desa,” katanya. Sampai hari ini film tersebut masih membekas. Ada jenis biru yang akan membuat Bu Piah berucap, “Wah, biru-biru Benhur nih.” Dan kenyataannya, istilah “biru Ben-Hur” memang ada dalam bisnis penjualan pakaian hari ini.

Keadaan mulai berubah pada 1971. Darto minta izin untuk berlayar. Sebelum itu ia adalah pegawai di bagian personalia Angkatan Laut. Piah mengizinkan, meskipun sebenarnya bimbang karena ia sedang hamil anak ketujuh. Dengan kapal KM Tanimbar, Darto berlayar dengan rute Banjarmasin-Singapura.

Darto biasanya pulang sebulan sekali. Tiap kali pulang ia selalu membawa oleh-oleh, rata-rata berupa baju-baju dan perabotan, yang beberapa juga dibagikan kepada sepupu dan keponakan. Teman saya bercerita bagaimana, pada masa itu, pakaian mereka tampak berbeda dari yang dipakai teman-teman sepermainannya.

Suatu kali Darto pernah membawa pulang cabe hanya untuk menunjukkan bentuk cabe di Banjarmasin. Ia juga bercerita tentang  perempuan-perempuan muda Cina yang berdagang di atas perahu di Singapura.

Selama ditinggal suaminya, Bu Piah tak merasakan kesendirian sebagai beban. Waktunya habis untuk membaca dan mengurus anak. Ia menceritakan kepada saya bagaimana ia langganan Berita Buana dan Buana Minggu, dan bagaimana ia mengkliping seluruh Ronggeng Dukuh Paruk yang dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas.

Remy Sylado adalah salah satu pengarang favoritnya pada masa itu. Ia bahkan menyebut Remy Sylado sebagai seniman mbeling, karena tulisan-tulisannya yang lucu dan konyol.

Ia membaca Majalah Tempo semenjak pertama kali terbit. Ia membeli semua edisi, bahkan kalaupun harus mengorbankan uang masak sebagai akibatnya.

Darto meninggal pada 1981 karena gagal ginjal. Ketika itu, belum ada cuci darah seperti sekarang. Selama perawatan, Bu Piah menunggui Darto di rumah sakit karena hanya ia yang bisa membangunkan Darto. Dokter bilang, di luar negeri sekalipun penyakit itu belum bisa diobati.

Masa paling indah selama pernikahan dengan Darto adalah ketika Bu Piah bekerja menjadi perias pengantin. Ia mempersiapkan peralatan untuk siraman sementara Darto akan memesan bunga ke tanah Abang. Darto juga mengajak anak-anak lelaki untuk membeli pakaian pernikahan adat Jawa di Solo. Setelah Darto meninggal, meskipun sebenarnya masih bisa dibantu orang lain untuk memesan bunga ke Tanah Abang, Bu Piah berhenti merias pengantin.

Lama sebelum meninggal, Darto berkali-kali bertanya apakah Bu Piah akan menikah lagi andaikata ia meninggal. Bu Piah menjawab tidak dan memang ia tidak pernah melakukannya.

Dengan santunan sebesar satu tahun gaji penuh, Bu Piah membuat warung sembako di rumah. Kadang-kadang ia memang bingung bagaimana caranya mengurus delapan anak sendirian. Namun bantuan dari keluarga dan kawan-kawan almarhum suaminya selalu datang.

Sejak tahun 1985, Bu Piah ikut senam Jantung Sehat di lapangan Pacuan Kuda. Kemudian, pada 1989, karena hampir seluruh anak-anaknya telah menikah, Bu Piah menutup toko dan mengikuti pendidikan dasar pelatih senam. Ia bahkan sempat menjadi maskot.

 

Keadilan sebagai nilai terpenting

“Menurut Ibu, nilai apa yang harus kami pegang untuk melalui semua ini?” tanya saya.

Bu Piah menjawab: “Keadilan.”

Ia melihat pemerintahan Pak SBY jauh dari adil, dengan mengambil contoh kasus pemberian grasi kepada warga asing pengedar narkoba yang terjadi belakangan ini. Saya langsung teringat pada banyak hal. Memang banyak sekali kasus di mana keadilan di negara ini dipertanyakan: Kasus GKI Yasmin, Ahmadiyah, Papua, dan masih banyak lagi.

Sampai hari ini Ibu Piah masih mengikuti senam pagi tiga kali seminggu di Klub Jantung Sehat Mawar Indah di komplek AL Kodamar. Tujuh tahun terakhir, setiap 20 Oktober, ia ikut gerak jalan di Monas. Ia juga masih membaca Majalah Tempo dan Kompas Minggu. Ia bahkan mengisi TTS.

Bu Piah tampak ceria dan bugar pagi itu, meskipun sebenarnya ia sudah kehilangan begitu banyak: ayah, ibu, suami, semua di usia muda. Barangkali benar kata penyair Palestina Mahmoud Darwish: kita tak harus hilang dalam kehilangan-kehilangan kita.***

Norman Erikson Pasaribu dilahirkan di Jakarta, 18 Maret 1990. Cerita-cerita pendeknya dipublikasikan di harian Kompas, Majalah Sastra Horison, dan beberapa media lain. Kini menghabiskan waktunya untuk menulis dan berkomutasi Jakarta-Bekasi.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.