Setelah beras, rokok menjadi kebutuhan pokok

Setelah beras, rokok menjadi kebutuhan pokok

Setelah beras, rokok menjadi kebutuhan pokok

Terbit 5 July 2012, 12:16 AEST

Ketika rokok menjadi kebutuhan pokok, maka anggaran rumah tangga untuk kesehatan dan pendidikan tidak lagi menjadi perhatian.

70 persen perokok  di Jakarta berasal dari keluarga miskin. Demikian dikatakan oleh pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia – YLKI , Tulus Abadi kepada Radio Australia Kamis pagi.

Dikatakan Tulus, para perokok di Jakarta menggunakan 12 persen penghasilan mereka untuk membeli rokok, sementara 19 persen penghasilan mereka untuk membeli beras. Artinya rokok menjadi prioritas kedua setelah kebutuhan pokok.

Karenanya, kebutuhan akan kesehatan dan pendidikan tidak mendapat perhatian, sehingga ketika mereka sakit, atau anak mereka harus melanjutkan pendidikan, mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan dana.

Survey yang dilakukan oleh YLKI juga mengungkapkan bahwa 87 persen kendaraan umum di Jakarta  masih ditemukan orang-orang yang merokok, meskipun Pemerintah Propinsi Jakarta telah menerapkan larangan untuk merokok di kendaraan umum.

Abadi menilai, kurangnya penegakkan hukum menjadi persoalan utama mengapa masih banyak orang leluasa merokok di kendaraan umum. Kalaupun penegakan hukum dilakukan kepada mereka yang melanggar, Abadi melihat penjara-penjara di Jakarta akan kewalahan menerima pelanggar perokok di kendaraan umum.

Ikuti selengkapnya wawancara Dian Islamiati Fatwa dengan Tulus Abadi, pengurus harian YLKI.

Kontributor

Dian Islamiati Fatwa

Dian Islamiati Fatwa

Produser

Karir Dian di dunia jurnalistik dan penyiaran dimulai sejak tahun 1992.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.