Sindikat narkotika internasional ditengarai ada di Indonesia

Sindikat narkotika internasional ditengarai ada di Indonesia

Sindikat narkotika internasional ditengarai ada di Indonesia

Diperbaharui 27 December 2012, 13:42 AEDT

Badan Narkotika Nasional (BNN) menengarai jaringan sindikat Narkotika internasional asal Iran tengah berusaha memindahkan pabrik mereka ke Indonesia. Mereka memproduksi narkotika di rumah-rumah kontrakan atau apartemen. BNN meminta masyarakat berpartisipasi mencegah hal ini dengan lebih mewaspadai gerak-gerik  orang asing yang tinggal di lingkungan mereka.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan Indonesia saat ini masih menjadi sasaran peredaran narkotika oleh sindikat narkotika internasional, tak heran jika kasus kejahatan narkotika terus meningkat. Dalam rilis akhir tahunnya di Jakarta, BNN menyebut jaringan sindikat narkotika internasional asal Iran masih menjadi pemasok utamanya.

BNN menengarai jaringan sindikat narkotika asal Iran ini sedang berupaya memindahkan pabrik narkotika mereka ke Indonesia. Modusnya dengan menggunakan rumah sewaan atau apartemen sebagai tempat untuk memproduksi narkotika. Direktur Penindakan BNN, Benny Mamoto di Jakarta mengatakan modus yang sama sudah dilakukan sindikat itu di Malaysia.  

“Gejala untuk mereka memindahkan itu ada. Kenapa? Karena di Malaysia sudah terungkap sudah tertangkap. Kita tahu ribuan orang Iran berada di apartemen di Kuningan Jakarta, kemudian Cisarua. Cipanas mereka ngontrak rumah-rumah disana. Ketika mereka memproduksi di Teheran ada cost tambahan untuk kurir, ada resiko kalo tertangkap,  maka yang paling mudah adalah ahli kimianya yang datang produksi di sini dan langsung memasarkan di sini. Memotong mata rantai.”

Benny Mamoto menambahkan pabrik narkotika rumahan atau dikenal dengan clan lab sangat mengkhawatirkan. Selain sulit diawasi, kemampuan produksi mereka juga sangat tinggi; rata-rata 4 hingga 5 kilogram narkotika per hari.  

Sindikat narkotika Iran saat ini juga diketahui telah bekerjasama dengan jaringan sindikat narkotika Nigeria untuk  mendistribusikan sekaligus mengawasi peredarannya di dalam negeri. Distribusi dan pengawasan itu dicurigai dilakukan oleh WNA dari balik jeruji penjara di Indonesia.

Benny Mamoto mengatakan, untuk mencegah hal ini,  BNN bekerjasama dengan pihak imigrasi dan dinas kependudukan setempat untuk meningkatkan pengawasan terhadap warga negara asing yang tinggal di Indonesia, termasuk para pencari suaka. Hal ini dilakukan menyusul tertangkapnya dua pencari suaka asal Iran di Jakarta Utara yang terlibat dalam kasus narkotika. BNN meminta masyarakat berantisipasi dalam kegiatan pencegahan ini dengan memastikan status WNA yang tinggal di lingkungannya.

Namun ajakan BNN agar masyarakat lebih peduli tampaknya butuh upaya keras. Sekjen Gerakan anti Narkotika Granat, Ashar, mengakui masih rendahnya kesadaran warga terhadap bahaya kejahatan narkotika.

"Seperti terorisme; RT aja engga ngerti kalau ada teroris di sekitarnya. Ini berarti tidak ada kesadaran dari lingkungan."

Sepanjang tahun 2012 ini BNN telah mengungkap 117 kasus narkotika dengan jumlah tersangka sebanyak 187 orang dan total aset mencapai hampir Rp. 30 milyar rupiah.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.