Solusi cegah krisis pangan: ubah perilaku konsumsi makanan

Solusi cegah krisis pangan: ubah perilaku konsumsi makanan

Solusi cegah krisis pangan: ubah perilaku konsumsi makanan

Diperbaharui 16 January 2013, 13:41 AEST

Seberapa banyakah bahan pangan yang kita konsumsi setiap harinya? Tahukah Anda kalau 30-50% makanan yang diproduksi sebenarnya tidak semuanya masuk ke dalam perut kita? Mari ubah cara kita mengolah makanan untuk mencegah krisis pangan.

Menurut pendiri portal hijau pertama di Indonesia, Hijauku, Hizbullah Arief, Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber pangan terbanyak di dunia.

"Tahun lalu, Yayasan KEHATI mengadakan satu diskusi, dan salah satu hasilnya menyebutkan bahwa 51% bahan pangan di kawasan Asean sebenarnya ada di Indonesia."

Ia mengaku sangat optimis kalau Indonesia bisa melakukan swasembada pangan, asalkan adanya strategi-strategi untuk memenuhinya.

Salah satunya strategi yang bisa diambil adalah keberagaman pangan.

"Selain upaya untuk meningkatkan produktivitas pangan, salah satu isu besar dalam food security di Indonesia adalah bagaimana memperkenalkan keberagaman pangan."

"Yang menjadi masalah, sejak tahun 1969, Indonesia telah mendapatkan intervensi berupa bantuan gandum dari beberapa negara, yang kemudian mengubah pola pangan di dalam negeri."

"Sampai sekarang gandum menjadi lebih banyak dikonsumsi, dan bahan pangan lokal menjadi dilupakan."

Lantas, yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah kita mampu beralih dan mencari sumber pangan utama lainnya, selain apa yang sudah kita biasa makan?

Perilaku dalam mengolah dan mengkonsumsi bahan pangan

Sebagai portal pertama di Indonesia yang mengangkat isu-isu lingkungan dengan memberikan informasi dan inspirasi, khususnya melalui jejaring sosial, Hijauku juga mencoba untuk menawarkan solusi pangan yang bisa kita mulai dari diri sendiri.

Hizbullah menjelaskan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengurangi limbah makanan.

"Sekitar 30-50% makanan yang diproduksi sebenarnya tidak pernah masuk perut, tidak pernah dikonsumsi."

Ia juga menambahkan mulai dari proses produksi hingga ke meja makan, banyak bahan pangan yang hilang. Hal ini disebabkan adanya kesalahan dalam proses teknologi pengolahan dan distribusi, ditambah dengan perilaku konsumen.

"Dalam mengkonsumsi makanan, mereka suka membuang-buang makanan, belanja bahan makan berlebihan. Juga, ada peran supermarket dengan promosi yang berlebihan menyebabkan konsumen berbelanja lebih dan kemudian akhirnya terbuang juga."

Simak wawancara Nuim Khaiyath dengan Hizbullah Arief melalui audio yang telah disediakan.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.