Sudah sehatkah jajanan anak di sekolah?

Sudah sehatkah jajanan anak di sekolah?

Sudah sehatkah jajanan anak di sekolah?

Diperbaharui 26 November 2012, 10:14 AEDT

Hasil pantauan terbaru Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terhadap kualitas pangan jajanan anak sekolah menunjukan 40% persen jajanan di sekolah tidak layak di konsumsi, karena mengandung zat kimia berbahaya dan kondisi pangan yang tidak higienis.

BPOM melakukan di lebih dari 2.500 Sekolah Dasar (SD) dan sederajat  sampai di enam provinsi, seperti Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra.

Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan,  Halim Nababan mengatakan kebanyakan jajanan masih mengandung zat berbahaya yang mengancam kesehatan anak-anak.

“40 hingga 46% tercemar mikroba,  karena kurang bersihnya si pembuat makanan. Pembelinya juga kurang bersih. Ada juga karena penggunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin, terutama di produk mie basah, juga zat borax methanil yellow dan rodamin," jelas Halim.

Rendahnya kualitas pangan jajanan di sekolah sudah disoroti sejak lama.

Tahun 2011 lalu, pemerintah mencanangkan Gerakan Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (GANPJAS).

Lewat gerakan ini pemerintah melalui BPOM melakukan intervensi langsung kesekolah-sekolah untuk melakukan pengawasan dan sosialisasi mengenai pentingnya memperhatikan kualitas dan kebersihan pangan jajanan sekolah.

BPOM mengaku melalui program ini telah berhasil menurunkan jumlah makanan jajanan sekolah yang tidak layak hingga 24%.

Tetapi menurut pantauan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), masih perlu dikritisi soal apa yang diteliti oleh BPOM dan di sekolah mana saja. Seperti yang diungkapkan peneliti YLKI, Ida Marlinda.

"Masalahnya tidak semua sekolah mereka datangi, sebenarnya sekolah yang berbahaya itu sekolah bagi kelas menengah ke bawah."

"Sekarang juga pedagang lebih pintar, dengan menambahkan pemutih, terus lilin, dan zat-zat lain yang jauh lebih berbahaya. Uji klinik yang dilakukan di sekolah-sekolah belum mencakup itu."

Bahan kimia berbahaya yang terkandung di banyak jajanan jika terus dikonsumsi dalam waktu lama akan berdampak terhadap kesehatan, salah satu  adalah menurunkan kemampuan berpikir anak.

Data badan PBB, UNDP, menyebutkan sekitar sepertiga penduduk Indonesia memiliki kemampuan berpikir di bawah rata-rata akibat pengaruh buruk lingkungan dan pola jajan yang tidak sehat.

Dalam 5 tahun terakhir, ditemukan juga banyak anak Indonesia yang tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar karena tidak mampu menerima pelajaran dengan baik.

Salah satu cara yang perlu dilakukan oleh orangtua untuk mencegah kebiasaan jajan di sekolah adalah dengan menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk anak-anak sebelum berangkat sekolah.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.