Tahun Baru Imlek bagi orang Cina Indonesia di Australia

Tahun Baru Imlek bagi orang Cina Indonesia di Australia

Tahun Baru Imlek bagi orang Cina Indonesia di Australia

Diperbaharui 10 February 2013, 7:37 AEST

Perayaan Tahun Baru Cina adalah salah satu event paling meriah di berbagai kota di Australia. Lalu bagaimana orang-orang Tionghoa asal Indonesia merayakannya di Australia, khususnya setelah dulu lama tidak merayakannya? Apakah mereka masih memiliki tradisi ini dan apakah mereka masih merasa diri 'orang Cina'?

Ikuti berbagai cerita ini dalam Bahasa Mandarin

Ikuti berbagai cerita ini dalam Bahasa Inggris

Saya ngobrol dengan dua orang Tionghoa Indonesia yang sudah menetap di Melbourne, Ratna Setiabudi dan Ben Sugija, tentang apa makna perayaan Tahun Baru Cina bagi mereka.

Ratna Setiabudi, asal Magelang, adalah seorang guru bahasa di Australian Defence Force. Dia masih ingat perayaan Tahun Baru Imlek keluarganya sebelum dilarang: anak-anak mengenakan pakaian baru dan sepatu baru, ibu membuat kue-kue untuk dihidangkan, sanak keluarga saling mengunjungi.

"Tahun Baru Imlek merupakan acara kumpul-kumpul keluarga yang sangat indah setiap tahun, yang selalu kami nantikan."

Menonton arak-arakan naga, dengan berbagai suara, warna, dan aroma, juga merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek. Tapi sebuah lembaran kertas menghentikan arak-arakan naga tersebut ketika Ratna berusia sekitar 14 tahun. Kertas tersebut, Instruksi Presiden nomor 14 tahun 1967, menyatakan bahwa 'kepercayaan, agama dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya' bisa menjadi 'hambatan terhadap proses asimilasi'. Dan naga tersebut pun terdamparkan hanya untuk bisa diingat dalam kenangan, dan dibicarakan di dalam batasan rumah dan keluarga. 

Walaupun Tahun Baru Imlek tersebut masih diperbolehkan dirayakan di dalam keluarga, Ratna berkata pelarangan tersebut menyebabkan komunitas Tionghoa di Indonesia merasa seperti kehilangan sesuatu. Mereka kehilangan festival yang identik dengan identitas mereka.

"Setelah Tahun Baru Imlek dilarang, kami merasa seperti kehilangan sesuatu untuk dirayakan. Maka kami mulai mencari penggantinya. Pelan-pelan kami mulai merayakan Natal dan Tahun Baru 1 Januari. Dan sejak itu kami menjadi Kristen dan melupakan Tahun Baru Imlek karena memang sudah tidak ada lagi."

Pada tahun 1993, Ratna pindah ke Melbourne, Australia. Setelah sekian lama tidak merayakan, ia gembira bisa merayakan Tahun Baru Imlek lagi di kota tersebut, yang merupakan tempat bermukim banyak warga keturunan Tionghoa, seperti dirinya. Seluruh keluarga pergi ke festival perayaan Tahun Baru Imlek di Springvale atau Boxhill dan menyaksikan tarian naga. Tapi di lubuk hatinya, ia merasa perayaan itu milik orang lain, bukan miliknya. 

"Kami menikmati perayaan itu, tapi kami tahu perayaan itu milik orang lain, dan kami hanya sebagai tamu."

Namun demikian, Ratna merasa puas saat kembali mengalami sesuatu yang sudah hilang di masa lalu, dan ia bisa mengajarkan tentang Tahun Baru Imlek kepada anak-anaknya, meskipun maknanya sudah tidak lagi signifikan.

Kehilangan identitas

Ben Sugiya, seorang insinyur sipil, pindah ke Australia di tahun 1983 dan sejak itu menikmati hidup yang mapan dengan tiga anak yang sekarang semuanya sudah mandiri sebagai profesional. 

Bagi Ben pribadi, merayakan Tahun Baru Cina adalah suatu nostalgia. Meskipun berdarah Cina, Ben tidak pernah mengijakkan kaki di Cina dan tidak bisa berbahasa Cina. Tapi menurutnya,Tahun Baru Cina adalah suatu event keluarga, dimana kita memberikan penghormatan kepada orangtua dan memberi selamat kepada orang lain, meskipun ia sendiri tidak mengerti maknanya. Katanya Tahun baru Cina itu untuk menyambut datangnya musim semi dan berakhirnya musim dingin, tapi di Indonesia tidak ada musim seperti itu.

"Tapi bagi saya ini suatu event keluarga, suatu tradisi yang baik, untuk memberi penghormatan kepada yang lebih tua dan teman-teman."

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden yang melarang perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000, dan kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan hari tersebut sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003, Ben melihat ini sebagai sebuah kemajuan di pihak pemerintah Indonesia. Katanya, ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah lebih dewasa dan tidak lagi berpandangan sempit. Menurut Ben, masyarakat Indonesia akan mendapat lebih banyak manfaat  karena komunitas Tionghoa merasa mendapat pengakuan, merasa dirangkul sebagai orang Indonesia.

Tapi pelarangan perayaan budaya bisa menyebabkan kehilangan sampai ke akar-akarnya. Kata Ratna, ketika tahun Baru Imlek dilarang dan semua ciri ke-Cina-an dilarang di Indonesia, kehilangan identitas tersebut memutus hubungan mereka sendiri dengan budaya Cina. Mereka menjadi orang Indonesia dan mulai merasa bukan lagi orang Tionghoa. Mereka kehilangan identitas sebagai keturunan Cina.

Dan sekarang, ketika mereka 'boleh menjadi Cina kembali', seperti dalam pengalaman Ben, ada keengganan karena dirinya tidak bisa berbahasa Cina, tidak bisa membaca tulisan Cina dan juga mungkin tidak diterima oleh orang Cina yang asli dari Cina. 

Itulah, menurut Ratna, mengapa mereka tidak yakin dimana mereka harus menempatkan diri.

"Kami tidak tahu kami ini termasuk yang mana. Jadi sekarang di Australia, terus terang, kalau keluarga merayakan Tahun Baru Cina, kami cuma pergi ke restoran. Kami ikut bergembira, menyaksikan tarian naga, tapi kenyataannya tidak ada lagi rasa memiliki, dan tidak lagi merasa sebagai orang Cina. Sungguh sayang sekali."
 

Melihat ke Masa Depan 

Kini, dengan kebebasan perayaan Tahun Baru Imlek, Ben Sugija merasa positif bahwa masa depan masyarakat Indonesia akan lebih harmonis. 

"Komunitas Cina akan merasa senang dan akan memberi kontribusi yang lebih baik kepada masyarakat luas karena merasa diterima."

Di Melbourne, Ben merayakan Tahun Baru Imlek dengan berkumpul bersama teman-teman dan menikmati kebersamaan, mengenang kembali masa lalu, dan makan enak.

Ben tidak terlalu memusingkan identitasnya sebagai orang Cina Indonesia. Dari penampilannya saja, orang pasti tahu ia punya darah Cina.

" Saya tidak pernah menyembunyikan identitas. Kalau orang bertanya apakah saya orang Cina, saya menjawab, ya, saya Cina Indonesia. Saya tidak merasa perlu menyembunyikan identitas. Saya menerima apa adanya. Yang penting saling menghormati."

Topik:

Kontributor

Juni Tampi

Juni Tampi

Penyiar

Sejak bergabung di tahun 1985, Juni membawakan program acara yang membahas multikultural Australia dan menjadi guru Bahasa Inggris untuk Radio Australia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.