Teknologi modifikasi awan untuk cegah banjir

Teknologi modifikasi awan untuk cegah banjir

Teknologi modifikasi awan untuk cegah banjir

Diperbaharui 1 February 2013, 15:27 AEDT

Untuk mencegah banjir, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan memodifikasi awan agar turunnya hujan tidak terlalu deras. Termasuk diantaranya agar cakupan hujan lebih luas sehingga hujan tidak turun satu tempat saja.

Apakah Anda mengenal istilah modifikasi awan?

Modifikasi awan adalah, "salah satu upaya manusia dalam mengintervensi proses yang ada di dalam awan-awan sehingga bisa diminimalisir apa bila nantinya menjadi bencana yang disebabkan cuaca," ujar Heru Widodo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, atau BPPT. 

Modifikasi awan ini dilakukan untuk menghambat intensitas hujan demi menghambat meluasnya banjir di Jakarta, yang terjadi pertengahan Januari lalu. 

Modifikasi awan dilakukan atas kerjasama beberapa instansi pemerintah, seperti BPPT, Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berserta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)

Dengan teknologi modifikasi awan ini, awan-awan yang memasuki pulau Jawa dijatuhkan di lautan atau di pantai-pantai, seperti di Pelabuhan ratu. 

"Di kawasan ibu kota, sendiri kami ganggu pertumbuhan awan itu dengan metodologi kompetisi, yaitu dengan sistem flare, seperti kembang api menghasilkan kompetisi uap air sehingga menghambat pertumbuhan awan," jelas Heru.

Hasil modifikasi awan ini berupa gulungan awan-awan yang besar, tetapi dikategorikan aman, tidak menyebabkan turunnya hujan.

Meski demikian, Heru menambahkan adanya beberapa resiko dalam memodifikasi awan, salah satunya adalah faktor keselamatan tim awak pesawat yang membuat hujan buatan.

"Kita menghadapi awan-awan di musim penghujan yang cukup besar dan berupa cluster. Berbondong-bondong awan itu sangat besar, sangat banyak, kalau kami menghadapi awan seperti itu, pesawat kami tergoncang-goncang sehingga dibutuhkan pilot-pilot yang handal."

Menurut Heru. teknologi ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, pernah diterapkan saat banjir besar Jakarta di tahun 2002, kemudian juga selama Sea Games Palembang, yang menurutnya telah mengurangi hujan hingga 80%.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.