Uji Handoko Eko Saputro: kekhusyukan seniman muda Indonesia

Uji Handoko Eko Saputro: kekhusyukan seniman muda Indonesia

Uji Handoko Eko Saputro: kekhusyukan seniman muda Indonesia

Diperbaharui 13 December 2012, 21:23 AEDT

Sebuah kepala berwajah hijau, mata berpola spiral ungu-kuning, seekor burung di atas hidungnya, dan gigi menguning yang menggigit tiga kuas dan cat, terletak di atas landasan putih di Gallery of Modern Art (GOMA), Brisbane. Sebuah lingkaran merah muda bertuliskan “This dot is mine” tertempel di dahi, mengingatkan pada lembaran mantera penangkal vampir di film-film Hong Kong yang mampu mengontrol tubuh jiang shi.

The Devout, nama kepala tersebut, adalah salah satu karya Uji Handoko Eko Saputro (Hahan), seniman asal Yogyakarta yang tampil di salah satu ajang seni terbesar di Asia-Pasifik, Asia Pacific Triennial ke-7, yang dibuka pada awal Desember dan akan berlangsung sampai April tahun 2013.

Kepala tersebut bisa jadi merupakan ekspresi fokus perjalanan seni Hahan. Dalam lukisannya, The Journey, yang dipamerkan di ruangan yang sama, sebuah lautan menjadi ajang renang bagi seniman-seniman yang berlomba menuju pintu bercahaya.

“Laut itu sebagai dunia seni. Ketika kita masuk, udah basah, ya udah sekalian kita jalan, jangan tanggung-tanggung. Kalau kelelep, kelelep sekalian, kalau bener, bener sekalian,” katanya ketika menjelaskan The Journey kepada Radio Australia.

Persaingan seniman muda di Indonesia

Dan Hahan, yang dilahirkan tahun 1983, memang sudah ‘kelelep’ dalam dunia seni. Bukan hanya dalam dunia seni sendiri, tapi kelelep di tengah-tengah banyaknya seniman muda seperti dirinya.

“Seniman-seniman muda saling bersaing, saling sikut…kita temen aja, tapi dalam satu hal kita harus bersaing dalam karir juga. Posisinya sekarang itu udah terlalu banyak banget seniman muda. Perkembangan itu gila. Setelah 2007, tiba-tiba banyak yang ingin menjadi seniman.”

Tahun 2007 memang tahun yang penting dalam perkembangan seni modern Indonesia. Pada tahun tersebut, harga seni kontemporer dari Indonesia meningkat pesat. Lukisan-lukisan kontemporer karya seniman-seniman muda dari Indonesia dibeli dengan harga tinggi. Bagi Hahan, ini menjadi sebuah godaan dan tantangan untuk mencari apa sebenarnya yang dia ingin lakukan sebagai seorang seniman.

“Aku engga nyalahin uang,” akunya.

“Uang itu hal yang penting juga untuk seniman bikin proyek. Ya itu naluri. Itu basic banget. Tapi ketika itu porsinya lebih besar, godaan itu mungkin [menjauhkan] dari fokus-fokus yang pengen kita dapetin sebenernya, tapi tiba-tiba lebih concentrate ke salah satu sisi.”

Dan apa yang dia ingin dapatkan sebagai seorang seniman?

“Kalau aku sih merasa seniman itu menjadi sebuah pelatuk. Kayak pull the trigger. Ketika kita membikin sesuatu karya, dan audiens datang, ngeliat karya itu…[dan] memancing mereka untuk mempunyai perspektif, yang mungkin berbeda juga dari ide awal  senimannya, tapi pancingan itulah yang sebenarnya fungsi yang aku merasa ketika seni berhasil. Jadi fungsinya memang menarik pelatuk itu. Kayak provokator. Aku sih ngerasanya seperti itu.”

Dan di tengah-tengah berbagai cerita yang kini berkembang di Indonesia, Hahan menyatakan sikapnya untuk terus melakukan kritik dan menantang dengan menggunakan seni di Indonesia.

“Saya tidak merasakan era 90-an,” katanya; dia mengaku masih terlalu sibuk bermain dengan skateboard pada saat itu.  

“Aku berada di era 2000-an yang semuanya udah mungkin terjadi. Dan yang aku liat, menurutku, di era 90-an, kita punya satu musuh. Tapi sekarang, itu cepet banget musuh-musuh itu pergi, lewat [begitu saja], tapi banyak yang kita kerjakan.  Kita engga cuma fokus dalam satu hal yang kita lawan: kayak searching new enemy.

Mantera ‘this dot is mine’ mungkin telah tercantum jelas di benaknya sebagai sebuah simbol kekhusyukan menjalani kepercayaannya tentang seni. Untuk terus menceburkan diri dalam dunia seni, menjadi provokator, dan memancing pemikiran dan perspektif baru bagi mereka yang berinteraksi dengan karyanya.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.