Virus intoleransi meluas

Virus intoleransi meluas

Virus intoleransi meluas

Terbit 18 December 2012, 13:34 AEST

Tidak ada kemajuan dalam upaya perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.

Sebaliknya kasus intoleransi setiap tahun  terus menunjukan tren peningkatan.

Tahun 2012 ini, tidak hanya jumlah kasus yang meningkat, tapi jumlah tindakan kekerasan yang dilakukan juga semakin beragam. 

Pemerintah dikritik keras karena tidak juga melakukan terobosan untuk menghentikan kondisi ini.

Pantauan kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia oleh  SETARA Institut menyebutkan sepanjang tahun 2012 terjadi 264 kali peristiwa kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terdiri dari 371 bentuk tindakan kekerasan.

Mulai dari penutupan rumah ibadah, diskriminasi, intoleransi hingga pembiaran.

Angka meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dimana pada tahun 2011 lalu tercatat terjadi 244  kasus dengan bentuk kekerasan kurang dari 300 jenis.

Kasus pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun dari pantauan SETARA Institut, Jawa Barat menempati urutan teratas dengan 76 peristiwa, disusul Aceh, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Peneliti SETARA Institut Ismail Hasani mengatakan, selain terus menunjukan tren peningkatan, kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia juga kian memprihatinkan, karena pelaku kekerasan atas nama agama saat ini tidak cuma lembaga atau organisasi masyarakat tapi juga banyak dilakukan oleh kalangan individu.

Ismail Hasani menyebut kondisi ini menunjukan virus intoleransi di Indonesia sudah menyebar ke masyarakat luas.

“Kalo pada awal kegiatan pemantauan kita tahun 2007-2008 aktor2 di lapangan sangat mudah dikenali, baik dari atribut mau pun para pemimpin tindakan tersebut, tapi belakangan banyak  juga warga individu yang secara spontan dan sporadik melakukan kegiatan-kegiatan intoleransi dan bahkan kekerasan  Dan ini menandakan bahwa virus intoleransi tidak melulu dimiliki oleh organisasi tapi juga telah  menyebar ke berbagai lapisan masyarakat".

Menyikapi kondisi ini SETARA Institut merekomendasikan agar Presiden SBY menggunakan sisa masa pemerintahannya untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan.

Pemerintah termasuk DPR juga didesak untuk memperkuat upaya perlindungan dari sisi  legal/hukum spt   menyusun UU penghapusan diskriminasi.

Sementara itu maraknya kasus intoleransi beberapa tahun belakangan, telah membuat Indonesia terus menjadi sorotan masyarakat Internasional.

Dalam Sidang mekanisme Universal Periodic review di  dewan HAM PBB beberapa waktu lalu, perwakilan Indonesia mendapat cukup banyak pertanyaan dari anggota PBB lainnya terkait isu intoleransi ini. Dari 180 rekomendasi yang diberikan, 17 di antaranya terkait soal kebebasan bergama/berkeyakinan.

Tekanan dan sorotan dari dalam negeri juga tidak kalah banyak.

Namun sorotan dan kritik dari dalam dan luar negeri ini tidak berdampak banyak, terbukti dengan tidak banyaknya kemajuan pemerintah dalam mengatasi kondisi ini.  

SETARA Institut menyebut kemandegan ini terjadi karena pemerintah tidak kunjung mengambil terobosan untuk menghentikan virus intoleransi ini, begitu kata  wakil direktur SETARA Institut, Bonar Tigor Naipospos.

“Kita bisa lihat bagaimana soal penyelesaian GKI Yasmin yang terakhir beberapa bulan lalu akhirnya buntu juga. Tidak ada tindaklanjutnya......".

Tanpa upaya terobosan dari pemerintah, SETARA Institut pesimistis upaya perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia ke depan akan mengalami kemajuan.

Kontributor

Iffah Nur Arifah

Iffah Nur Arifah

Reporter

Iffah adalah jurnalis Radio Australia pertama yang berbasis di Jakarta. Liputannya mencakup berbagai peristiwa politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia.

Hubungi studio Radio Australia

Ingin mengirimkan opini Anda mengenai acara radio kami?

Pesan singkat
Kirimkan SMS ke +61 427 72 72 72

Pasokan tweet
Tambahkan hastag (tanda pagar) #RAOnAir untuk bergabung dalam percakapan Radio Australia.

Email
Kirimkan opini Anda melalui email. Pesan Anda bisa kami gunakan ketika siaran.